Sejarah Pra-Islam di Asia Tenggara


-Sejarah Pra-Islam di Asia Tenggara




BAB 1
PENDAHULUAN
            Dalam membangun masyarakat, agama merupakan salah satu unsur penting kerangka institusi dari seluruh sistem sosial. Hubungan Islam terhadap kehidupan masyarakat secara garis besar dapat di ungkapkan melalui berbagai pandangan sebagai berikut:

1.      Hukum Tuhan
Yaitu semua ketentuan Tuhan dan peraturan – peraturan-Nya yang tercantum dalam Alquran dan sunnah yang merupakan norma bagi kehidupan perorangan dan bersama.

2.      Tujuan Masyarakat
Yaitu merupakan alat atau sarana bagi terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang menyangkut kehidupan beragama.

3.      Kewajiban menjalankan Hukum Tuhan
Hukum-hukum tuhan sebagai peraturan tentang cara hidup manusia, yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan yang sejati dunia dan akherat.

4.      Warga masyarkat
Yang mempunyai hak asasi dan kewajiban kepada masyarakatnya antara lain yaitu taat dan patuh kepada pemimpin.

5.      Pimpinan masyarakat
Hendaknya di pilih berdasarkan musyawarah sebagaimana secara  historis telah di contohkan oleh Islam.

6.      Sumber kedaulatan
Menjalankan pimpinan haruslah dengan kesadaran melaksanakan amanat tuhan itu dan di sertai kesadaran bahwa akan dipertanggungjawabkan kelak dihadapan tuhan.

7.      Asas musyawarah
Musyawarah adalah merupakan asas dalam kehidupan bermasyarakat. Islam tidak menghendaki adanya pemimpin totaliter atau otoriter.

8.      Ukhuwah Islamiyah
Yaitu syarat mutlak untuk tercapainya tujuan bersama. Persaudaraan dalam Islam merupakan sendi kehidupan bersama dan iman yang dimiliki oelh seorang muslim secara implisit mengandung dasar persaudaraan.

Kehadiran agama Islam yang dibawa oleh nabi muhammad saw diyakini dapat membawa kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagi petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas-luasnya.

Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat didalam sumber ajaran Islam: Alquran dan Sunnah tampak sangat ideal dan anggun. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, menghargai waktu, mengembangkan kepedulian sosial, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan dan sikap positif lainnya.[1]

Sehingga kedatangan ajaran Islam ini mudah diterima bagi hati orang – orang yang mau menerima kebenaran. Menghapus kebiasaan jahiliyah. Dan agama Islam ini tidak bertentangan dengan fitrahnya manusia. Misal kebutuhan seks, manusia memerlukannya dan Islam tidak melarangnya akan tetapi lewat jalan nikah bukan dengan jalan seks bebas, perzinaan, begitulah seterusnya.

Selama ini kita sudah mengenal Islam tetapi Islam dalam potret yang bagaimanakah yang yang kita kenal itu. Misalnya mengenal Islam dalam potret yang ditampilkan iqbal dengan nuansa filosofis dan sufistiknya.[2]

            Pemikiran para ilmuwan Muslim dengan mempergunakan berbagai pendekatan dapat digunakan sebagai bahan untuk mengenal karakteristik ajaran Islam, mencari sisi-sisi persamaannya untuk kemaslahatan umat bukan untuk diperdebatkan.

            Pembalajaran terhadap misi ajaran Islam secara komprehensif dan mendalam adalah sangat diperlukan karena beberapa sebab :

Pertama, untuk menimbulkan kecintaan manusia terhadap ajaran Islam yang didasarkan kepada alasan yang sifatnya hanya normatif, yakni karena perintah Allah,[3]
dan bukan emosional semata mata,[4] melainkan didukung oleh argumentasi yang bersifat rasional, kultural dan aktual. Yaitu argumentasi yang masuk akal, dapat di hayati dan dirasakan oleh umat Islam.

Kedua, untuk membuktikan kepada umat manusia bahwa Islam baik secara normatif maupun kultural dan rasional adalah ajaran yang dapat membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik tanpa harus mengganggu keyakinan agama Islam.

Ketiga, untuk menghilangkan citra negatif dari sebagian masyarakat terhadap ajaran Islam. Dewasa ini Islam sering di tuduh sebagai sarang teroris. Berbagai tindakan kejahatan seperti pembomam, sabotase, pembajakan pesawat, peperangan dan sebagainya sering dituduhkan kepada umat Islam.[5] Citra negatif itu harus dihilangkan, karena menyebabkan timbulnya kebencian masyarakat dunia terhadap Islam, juga menyebabkan orang lain tidak berani menunjukkan identitas keIslamannya di tengah publik.

Selanjutnya ciri Islam terhadap agama lainnya adalah bersikap persuasif, yaitu dari satu segi Islam melihat adanya hal hal yang tidak di setujui dan harus dihilangkan, namun dari segi lain Islam mengupayakan agar proses menghilangkan tradisi yang demikian itu tidak menimbulka gejolak sosial yang merugikan. Proses itu harus dilakukan secara bertahap sambil menjelaskan makna larangan tersebut yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan intelektual mereka, hingga akhirnya perbuatan itu benar benar ditinggalkan oleh masyarakat.

Misalnya terhadap praktek riba, judi, minuman keras dan memuja berhala dan sebagainya.
Islam misalnya menjelaskan bahwa riba dan judi itu membawa kepada timbulnya hal hal yang menyengsarakan  dan merugikan masyarakat. Sedangkan minuman keras dapat merusak dan menghilangkan akal sehat, perbuatan yang tidak terkontrol yang mengakibatkan timbulnya pertengkaran dan perbuatn tercela lainnya. Minuman keras dan menyebabkan orang yang meminumnya mabuk yang selanjutnya dapat melakukan perbuatan apa saja.[6]

Respon Islam dalam memberantas tradisi agama lain secara persuasif untuk dijadikan contoh bagi mereka yang bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan. Hal yang demikian ditujukan untuk kebagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat.
Islam juga menggaris bawahi terhadap ajaran-ajaran yang dibawa oleh agama terdahulu, namun dengan memberikan makna baru yang terdapat didalamnya. Jika dalam agama yang lalu terdapat pemisahan antara ibadah dan muammalah maka dalam Islam ibadah dan dan agama dipadukan.
            Agama Islam memiliki dasar-dasar ajaran yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, rohani, jasmani, lahir batin. Secara umum dasar-dasar ajaran Islam itu meliputi aqidah, syari’ah dan akhlak. Dasar-dasar ini terpadu menjadi satu dan merupakan bagian yang tak terpisahkan satu dengan yang lain. Demikian juga dalam praktek, baik yang besifat ubudiah maupun yang bersifat amaliah lain, dasar-dasar itu berjalan secara simultan.


            Dalam sejarah umat manusia, akan selalu dijumpai berbagai bentuk kepercayaan. Proses pencarian kepercayaan oleh manusia tidak akan berhenti selama manusia ada. Dalam proses manusia mencari kepercayaan akan dijumpai adanya bermacam-macam proses dari yang masih sederhana (animisme) sampai kepada sempurna (monotheisme). Dan setiap agama pasti memiliki konsep dasar kepercayaan yang oleh para ahli theology disebut sebagai pengertian dasar keagamaan.
            Konsep dasar itu dalam agama Islam dikenal dengan istilah “aqidah Islamiah” (pokok-pokok kepercayaan Islam), yang mengandung perumusan rukun iman yang enam.[7]

Agama Islam yang dibawa oeh nabi kita muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah agama yang diridhoi oleh allah swt. Dan beliau memililki sikap dan akhlak yang mulia. Sebagai salah satu contoh dari sikap baginda nabi yang mulia yaitu beliau mempersaudarakan diantara kaum muslimin. Mereka kemudian membagi rumah yang mereka miliki dan harta-harta mereka. Persaudaraan ini terjadi lebih kuat daripada hanya persaudaraan yang berdasarkan keturunan. Dengan persaudaraan ini rosul telah menciptakan sebuah kesatuan yang berdasarkan agama sebagai pengganti dari persatuan yang berdasarkan kabilah.

            Pada zaman sebelum Islam datang derajat wanita sangat lah rendah, mereka dilahirkan hanya untuk melahirkan,[8] wanita tidak lain hanyalah sebagai pemuasan nafsu laki-laki sahaja. Dan untuk melayani dalam segala hal. Mereka tidak boleh sama seperti laki-laki. Akan tetapi setelah nabi saw saw dilahirkan dan diangkat menjadi rosul derajat wanita diangkat oleh rosul menjadi mulia.[9] Begitulah akhlak rosullulah saw yang mencintai umat nya. Kaum wanita dalam Islam memiliki kesamaan kesempatan dan peluang untuk mengaktualisasikan potensi yang ada pada dirinya.

            Ajaran Islam yang dibawa oleh nabi muhammad saw yaitu ajaran yang bersifat egaliter, toleransi, persaudaraan, tolong-menolong, nasehat-menasehati, saling menjaga dan mengamankan dan seterusnya.

            Serta kasih sayang rasulluah saw dapat dilihat dari perlakuan orang kaum kafir quraisy dan penduduk thaif yang menyakiti hati nabi dan menghalangi dakwah nabi. Sampai dengan penyiksaan fisik, melempari nabi dengan batu bahkan sampai akan membunuh nabi. Beliau sama sekali tidak marah, tidak dendam dan tidak menyakiti mereka. Malah nabi mendo’akan mereka agar diberi petunjuk.

Studi Sejarah Islam

A.    Makna Sejarah
Kata sejarah dalam bahasa Arab disebut tarikh dan Sirah, atau dalam bahasa Inggris disebut History. Dari segi bahasa, al-tarikh berarti ketentuan masa atau waktu, sedang ‘Ilmu Tarikh’ ilmu yang membahas penyebutan peristiwa-peristiwa  atau kejadian-kejadian, masa atau tempat terjadinya peristiwa,dan sebab-sebab terjadinya peristiwa tersebut.[10]

Sedangkan menurut pengertian istilah, al-tarikh berarti; “sejumlah keadaan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau,dan benar-benar terjadi pada diri individu atau masyarakat, sebagaiman benar-benar terjadi pada kenyataan-kenyataan alam dan manusia”.[11]

Dalam bahasa Indonesia sejarah berarti:silsilah;asal-usul(keturunan); kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Sedangkan Ilmu Sejarah adalah “pengetahuan atau uraian tentang peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau”.[12]

B.     Islam Asia Tenggara
Kedatangan Islam ke wilayah Asia Tenggara diduga karena proses perdagangan dan bukan melalui proses penaklukan suatu wilayah. Hal ini bisa dilihat dari peranan wilayah Asia Tenggara pada saat itu sebagai salah satu jalur perdagangan yang diminati oleh para pedagang. Jalur perdagangan itu masyur dikenal sebagai jalur sutra laut yang membentang dari mulai Laut Merah- Teluk Persia- Gujarat- Bengal- Malabar- Semenanjung Malaka- hingga ke China.

Teori-teori masuknya Islam ke Asia Tenggara sebagaimana yang telah masyur adalah ada tiga kemudian berkembang menjadi empat pada saat ini, yaitu:
a. Teori Arab

b. Teori India

c. Teori Persia, dan

d. Teori China

Dengan keberadaan jalur perdagangan ini, memudahkan dalam penyebaran agama Islam, terutama di wilayah pesisir pantai hingga akhirnya masuk ke wilayah pedalaman. Selain itu penguasaan wilayah pesisir oleh komunitas muslim pada saat itu semakin mempermudah penyebarluasan dakwah dan syiar Islam kepada penduduk pribumi.

Dalam studi penyebaran Islam di wilayah daratan Asia Tenggara yang meliputi Thailand, Myanmar dan Indocina, pola penyebaran melalui perdagangan sangat dominan sekali. Selain itu adanya emigrasi suatu penduduk untuk mendiami wilayah baru di daratan Asia Tenggara ikut pula mempengaruhi proses penyebaran agama Islam seperti contohnya di wilayah Indocina.


BAB II
Analisa
Pra-Islam di Asia Tenggara
Kebanyakan tulisan mengenai asal mula Indonesia di Asia Tenggara, biasanya dimulai dengan Pasai dan kota-kota pelabuhan lain sepanjang pesisir timur Sumatera. Sayang, para ahli sejarah sosial Islam tidak banyak menaruh perhatian pada perkembangan di kawasan ini, dan koleksi makalah-makalah yang sangat baik mengenai kota Islam yang disunting oleh A.H. Hourani dan S.M. Sten, tidak menyinggung Asia Tenggara.[13]

Dalam bab pendahuluannya Hourani mengonstruksikan sebuah tipe kota Islam yang ideal, dan bersamaan dengan itu mengemukakan bahwa dapat diterima kalau kehidupan urban di kawasan-kawasan yang begitu berlainan seperti Spanyol, Mesir, Syria, Asia Tengah, Irak, Iran, serta subbenua India beraneka ragam dalam hal lahan, iklim, warisan, serta keterlibatan dalam berbagai sistem perniagaan harus mengambil bentuk yang sama, dan memperingatkan bahwa tidak meratanya distribusi penelitian terhadap kota Islam di kawasan yang sangat berlainan ini menciptakan bahaya berupa pemaksaan model-model yang tidak cocok. Tipe ideal yang diajukannya meliputi lima komponen yang mungkin sama bagi banyak kota Islam, meskipun secara sendiri-sendiri mungkin tidak ekslusif bagi satu diantaranya atau tidak harus menjadi ciri Islam.

Komponen-komponen ini adalah : 1. Sebuah benteng kota atau bangunan pertahanan;  2. Sebuah kota raja atau kawasan tertentu yang terdiri dari tempat tinggal raja, kantor-kantor pemerintahan, serta akomodasi bagi pasukan pribadi raja; 3. Sebuah kelompok urban di pusat yang terdiri dari masjid-masjid, sekolah-sekolah keamanan, serta pasar-pasar, dengan tempat-tempat khusus yang diperuntukkan bagi kelompok-kelompok tukang atau pedagang serta tempat-tempat kediaman saudagar borjuasi agama yang terpenting; 4. Sebuah “pusat” tempat tinggal yang terbagi menjadi kelompok-kelompok etnis asing yang menetap dan minoritas-minoritas agama yang menikmati suatu tingkat otonomi; dan akhirnya, 5. Kawasan luar berupa “daerah-daerah pinggiran kota” dimana bermukim imigran-imigran baru serta para pengunjung sementara ke kota itu. [14]

Negara – kota pesisir merupakan pusat bagi penyebaran ide-ide Islam kepada para petani di pedalaman melalui sistem kekerabatan yang pernah berfungsi menyebarkan unsur-unsur kebudayaan India, sambil menambahkan suatu warna pada korpus adat (suatu perangkat peraturan yang terus-menerus mengalami perubahan) yang sudah dilapisi dengan kepercayaan Hindu-Budha. Meskipun sistem  urban dan petani mewakili titik-titik pada sebuah kontinum daripada merupakan cara-cara hidup yang terpisah sama sekali dan bersifat alternatif, namun bagi sisi petani kemungkinannya lebih kecil untuk  Islam dalam kontinum itu dan lebih mungkin memperlihatkan berbagai tingkat warna ideologi jika dibandingkan dengan sisi urban.

Dua Negara-kota Islam terpenting di dunia Melayu antara abad ke-15 dan 17 adalah Malaka dan Aceh, dan struktur serta fungsi kedua kota ini sangat mendekati model Hourani. Ada sejumlah besar tulisan dalam bahasa Portugis yang berkaitan dengan Malaka, dan bahan yang lebih banyak lagi dalam berbagai bahasa yang menyangkut Aceh. Bagi masing-masing Negara itu dapat juga dipertalikan sejumlah korpus tulisan yang penting dalam bahasa Melayu. Laporan paling lengkap mengenai korpus ini diberikan dalam karya Sir Richard Winstedt, A History of Classical Malay Literature. Sayangnya, meskipun karya itu berisi informasi yang melimpah yang tidak terdapat di tempat lain, namun asumsi-asumsi serta perkiraan-perkiraan yang menentukan strukturnya analog dengan asumsi dan perkiraan yang telah mengacaukan sejarah Asia, Asia Tenggara pada umumnya; yaitu bahkan Melayu merupakan sebuah kategori yang tidak dapat dibedakan, bahwa ia mempunyai periode klasik, sebagai penegasan suatu zaman keemasan, bahwa ia rentan terhadap  perlakuan sejarah yang linier, dan sebagainya. Pandangan sekilas pada daftar isinya menunjukkan bahwa kerangka acuan sejarahnya tidak dapat dipertahankan. Karena sedikit dalam banyak karangan Melayu yang menunjukkan tanggal tulisannya, Windstedt terpaksa menggunakan isi dan aliran cultural sebagai pedoman bagi pembabakan, dan berdasarkan ini ia menetapkan suatu masa Hindu, Peralihan atau masa Islam, abgi karya-karya mengenai kesultanan Malaka (1400-1511) sebagai “inti” sentral yang dapat dihubungkan dengan semua hal yang berharga dalam kesusastraan Melayu.[15]

Dalam tulisan analisa ini, penyusun mencoba untuk menampilkan suatu analisa mengenai Pra-Islam di Asia Tenggara, menyangkut latar belakangnya (keadaan masyarakat sebelum datangnya Islam dan keadaan sesudah datangnya Islam di beberapa Negara di Asia Tenggara serta perkembangannya).
Pendekatan yang dipergunakan penyusun di dalam menganalisa permasalahan di atas ialah pendekatan sosiologis sebagai kerangka pemikiran teoritis, sedangkan bahan-bahan historis dipergunakan sebagai bahan pembuktian terhadap kerangka pemikiran yang diajukan penyusun. Soedjito Sosrodighardjo mengatakan, bahwa pendekatan sosiologis dengan menggunakan bahan-bahan sejarah sebagai pembuktian telah dilakukan oleh W.F. Wertheim, B. Schriek, J.C. Van Leur dan para sarjana di universitas Cornell Amerika. Soedjito sendiri mempergunakan di dalam menganalisa perubahan struktur masyarakat di Jawa.

Variasi Pemeluk Agama[16]
Masyarakat kolonial Hindia Belanda terdapat berbagai variasi pemeluk agama, terutama pemeluk agama Islam, Nasrani dan agama pra Islam lainnya. Adapun mengenai perubahan-perubahan besar di Nusantara ini, penyusun cenderung kepada suatu pendapat yang mengatakan bahwa faktor dari luar banyak mempengaruhi disamping faktor di dalam sendiri. Pendapat ini dapat dibuktikan di dalam  perubahan masyarakat Animisme menjadi masyarakat  Hindu (India); masyarakat Hindu menjadi masyarakat Islam (Arab);  masyarakat Islam menjadi masyarakat kolonial (Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang) dan masyarakat colonial menjadi masyarakat merdeka (Jepang dibom Amerika dan Inggris terlambat datangnya ke Indonesia selama satu bulan). Pendapat ini dapat dibuktikan pula kebenarannya di dalam kebangkitan Islam dan Nasionalisme di Indonesia.[17]

Proses Islamisasi tidak sepenuhnya selesai dengan sempurna, masih terdapat daerah-daerah terpencil yang belum terjamah dengan proses Islamisasi itu. Seiring dengan itu, proses internalisasi dan sosialisasi ajaran-ajaran Islam dikalangan penganutnya tidak sepenuhnya berjalan dengan tuntas dan utuh. Bahkan terjadi sinkritisme  antara agama Islam dengan agama pra-Islam di kalangan masyarakat. Sinkritisme ini dapat dilihat didalam acara-acara kemanten, kematian dan selamatan lainnya. Pada saat itu disamping ada acara pemicaraan doa oleh seorang tokoh ulama atau yang mewakilinya, juga diadakan sesajen untuk setan, jin atau ruh ghaib, menabur beras kuning, membakar batang padi (Bhs. Madura: roman) dan perbuatan-perbuatan lainnya yang dekat dengan syirik, bid’ah dan khufarat.

Umat Islam terbagi dua kelompok yang berbeda. Pertama kelompok santri, yang juga disebut Islam mutian, yaitu pemeluk agama Islam yang patuh memenuhi kewajiban agamanya sesuai dengan patokan-patokan Syari’  Islam Asia Tenggara dan waktu periode kebangunan Islam kembali mereka menjadi  pendukung-pendukung  organisasi-organisasi pergerakan yang berdasarkan Islam. Kedua kelompok abangan, yaitu pemeluk agama Islam yang hanya mengaku dirinya yang beragama Islam, namun mereka tidak mengamalkan amalan keIslaman, seperti Shalat, Puasa, Zakat dan amalan-amalan lainnya. Mereka adalah kelompok insinkritis yang lebih dengan filsafat pra Islam dan kelompok intelegensia, pemuja kebudayaan Barat.

Datangnya penjahat Barat merobah peta keagamaan di Indonesia ini, sebab mereka datang tidak sekedar untuk menjajah bangsa Indonesia, tetapi juga melakukan proses Nasranisasi. Pertama datanglah Portugis menerapkan proses Nasranisasi secara teratur di Maluku dengan mengirimkan pendeta-pendeta dan guru-guru ke daerah-daerah. Selanjutnya kerja keagamaan ini dilanjutkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan Inggris. Program keagamaan ini lebih tersusun rapid an berencana secara lebih terperinci setelah ratu Belanda mengemukakan pidatonya pada tahun 1901.

Program keagamaan ini di dalam pelaksanaannya mempunyai dua pola, yaitu pola Inderburg, yang menghendaki pembebasan kaum muslimin dari agamanya dan sekaligus memasukkan agama Nasrani terhadap mereka da pola Snaouch, yang menganjurkan agar rakyat diperkuat dengan menganut kebudayaan Barat, dengan demikian diharapkan mereka bisa lepas dan jauh dari agamanya. Dua pola ini telah realitas bagi masyarakat Indonesia. Agama Nasrani berakar di daerah Sulawesi Utara (Minahasa), Maluku, Timor, Tapanuli dan daerah-daerah lainnya, sebagai realisasi dari konsep Inderburg. Sedangkan hasil dari konsep Snouch ialah para para intelegensia yang memperoleh pendidikan Barat, yang bersikap acuh tak acuh dan merendahkan agama Islam dan menganggapnya sebagai unsure pemecah belah persatuan serta membawa kemunduran bangsa. Mereka pada lahirnya bersikap netral terhadap agama, namun sikap yang sebenarnya membuktikan bahwa mereka memuja kebudayaan Barat. Sebagai bukti ditolaknya program keagamaan (Islam) oleh kongres Budi Otomo (BU) pada tahun 1918, kemudian BU mendasari perjuangannya dengan asas kebebasan dalam soal agama. Gunawan Mangunkusumo menulis tentang agama dalam Gedenkboek BU, tertanggal 20 mei.

Atas keberhasilan pemerintah kolonial memisahkan  penduduk pribumi dari agama Islam membuat perjalanan sejarah Pergerakan Nasional pecah menjadi dua kecenderungan yang sama sekali berbeda. Pertama Pergerakan Nasional yang berasaskan Islam. Kedua Pergerakan Nasional  yang berpandangan sekuler, yang didukung oleh kelompok intelegensia Kaum Nasionalis ini menjadikan agama (Islam) sebagai alat belaka, bukan asas atau tujuan.

Perjuangan Melawan Kolonialisme[18]
Kehadiran penjajahan Barat di Kepulauan Nusantara dikarenakan raja-raja yang berkuasa pada saat itu memperlakukan bangsa Barat sebagaimana mereka memperlakukan bangsa Timur Asing; India, Cina dan Arab. Bagi mereka pedagang adalah pedagang. Sama sekali tidak dirasakan sebagai sesuatu kekuatan yang hendak merongrong dasar legitimasi mereka. Mereka member jawaban yang tetap terhadap tantangan yang telah berubah, demikianlah Toynbee berteori. Seiring dengan sikap itu pula, bangsa Barat mendapatkan kepulauan Nusantara ini bukanlah sebagai suatu kerajaan yang utuh dan besar, tetapi merupakan kesatuan-kesatuan politik dan dagang yang saling berhubungan, baik dalam bentuk persekutuan, permusuhan maupun dalam hubungan peraturan.

Bangsa Indonesia sendiri tidak pernah puas dengan sistem  kolonialisme ini, mereka sering melakukan letupan-letupan kecil sebagai protes tanda ketidakpuasan mereka terhadap keadaan yang ada dan melakukan peperangan sebagai perlawanan mereka untuk mengusir penjajahan Barat itu. Protes dan perang itu juga terjadi antar bangsa sendiri, yaitu antar penduduk pribumi yang patriotik, membela tanah air dan kepentingan bangsanya dengan penduduk pribumi lainnya yang menjadi pelacur dan kaki tangan pemerintah kolonial . Trunojoyo pernah memperingatkan Amangkurat II dikarenakan ia bersekutu dengan pemerintah kolonial pada tahun 1679.

Perjuangan bersenjata mulai berkobar dimana-mana diseluruh persada tanah air dengan beruntun, saying tidak serentak. Peperangan Makasar 1633-1669, peperangan Palembang 1818-1821, peperangan Paderi 1821-1832, peperangan Diponegoro 1825-1830, peperangan Banjar 1845-1864, dan peperangan Aceh 1875-1930. Dalam peperangan ini berguguranlah para Syuhada’ kusuma bangsa yaitu Imam Bonjol, Tengku Cik Ditiro, Cut Nya’ Din, Antasari, Diponegoro dan lain-lainnya.

Masa pra-Islam dan perkembangannya di Malaka

Hubungan Nusantara dengan Asia Barat sejak zaman Islam dikatakan berlaku sejak abad ke-17 Masehi. Berpedoman kepada beberapa fakta sejarah yang terdapat saat ini sama ada dalam bentuk laporan, catatan, situasi kebudayaan masyarakat dan inskripsi-inskripsi. Ahli-ahli sejarah terutama sejarahan daerah berpendapat kedatangan Islam ke Nusantara berlaku pada abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Sedangkan  sejarawan Barat berpendapat kedatangannya berlaku di sekitar abad ke -13 Masehi. Di tanah Melayu kebanyakan para sejarawan  daerah mengandaikan kedatangannya di sekitar abad ke-9 dan pada abad ke-12 Masehi. Kebanyakan sejarawan Barat berpendapat berlaku di sekitar abad ke-15 Masehi yang bermula dari Malaka. Namun demikian berdasarkan kepada kajian yang lebih menyeluruh di samping terdapat beberapa penemuan baru diyakini kedatangan Islam kea lam Melayu berlaku sejak abad ke-7 dan ke-8  Masehi lagi.

Walaupun bagaimanapun penyebaran secara lebih pesat dan menyeluruh didapati berlaku dalam abad ke-15 dan ke-16 Masehi. Terdapat beberapa faktor yang mendorong penyebaran Islam secara lebih positif di saat ini dimana antara faktor-faktor tersebut ada perkaitan atau pengaruh yang mempengaruhi antara satu sama lain. 

Faktor-faktor tersebut ialah :[19]

a.       Faktor Perlombaan Penyebaran Agama

Kepulauan Nusantara berangsur-angsur menerima perubahan akibat pengaruh yang dibawa oleh Islam di samping  perkembangan pesat perdagangan dengan luar negeri. Kemasyuran itu menarik minat  bangsan Barat terutama orang-orang Portugis melakukan imigrasi ke daerah ini. Dengan penghijrahan itu mendorong untuk mempercepat serta mempergiatkan lagi penyebaran agama Islam id daerah ini. Pada hakikatnya motif kedatangan Portugis ke Nusantara selain dari tujuan perdagangan ialah bertujuan pengembangan agama Kristen. Dorongan semangat perang salib  selama beberapa abad dengan orang-orang “Moor” nama yang diberikan kepada orang Islam, yang akhirnya mereka Berjaya menumpaskan orang-orang Islam serta meluaskan lagi serangan ke Afrika Utara. Peperangan yang bermula sebelum abad ke-13 Masehi itu tidak saja di kawasan Eropa bahkan berlaku dimana-mana terdapat kedua-kedua penganut agama tersebut.

Pergolakan yang berlaku dekat laut Arab dan India, menyebabkan pedagang-pedagang Islam terpaksa mencari tempat lain ke Timur bagi tujuan perdagangan di samping menyebarkan agama Islam sehingga ke Nusantara. Dalam abad ke-13 Masehi, Mesir dikatakan Berjaya menguasai perdagangan antara Timur dan Barat. Pada tahun 1498 Masehi Vasco da Gama Berjaya mendapatkan India, dengan itu mereka menyerang kapal-kapal Islam dari Mesir. Dengan kejayaan itu Raja Portugis menugaskan Al-Fonso de Albuquerque supaya menuju ke Timur khususnya ke Nusantara. Al-Fonso de Albuquerque mengambil keputusan untuk menaklukkan Malaka, karena Malaka pada masa itu bukan saja merupakan pusat perdagangan antar bangsa (Internasional Trade) bahkan pusat penyebaran Islam di sebelah timur dalam abad ke-16 dan ke-17 Masehi.

b.      Faktor Perkawinan

Dalam mengembangkan lagi dakwah Islamiah, perkawinan juga dapat memainkan peranan secara lebih mantap dan berkesan. Perkawinan yang biasa berlaku disini dalam periode permulaan Islam ialah perkawinan antara saudagar-saudagar Islam dengan gadis-gadis  pribumi, terutama putrid-putri di kalangan istana dan pembesar-pembesar  negeri. Begitu juga perkawinan antara seorang Raja dengan putrid-putri  Raja di negeri jiran atau di negeri yang di taklukinya. Kedua struktur perkawinan itu merupakan faktor pembantu dalam menyebar Islam di daerah ini.

c.       Faktor Perdagangan

Kegiatan perdagangan antara Arab, Farsi dan India dengan Nusantara dikatakan telah berlaku sejak beberapa abad sebelum masehi lagi hingga ke zaman kedatangan Islam pada abad ke-17 dan ke-8 Masehi.  Sejak zaman awal Islam lagi pedagang-pedagang Arab-Islam di samping menjalankan aktivitas perdagangan di Nusantara mereka  telah memperkenalkan agama suci itu di mana-mana   saja pelabuhan yang mereka singgahi. Dari sifat mulia dan kepribadian yang tinggi serta amalan-amalan agama Islam yang dianut oleh mereka. Situasi tersebut menyebabkan mereka senantiasa disanjung tinggi dan dipercayai oleh segenap lapisan masyarakat. Mereka bukan saja diberbagai keistimewaan sebagai pedagang bahkan ada yang kedudukan tinggi d istana-istana.

d.      Faktor Penguasaan Syahbandar

Syahbandar merupakan orang yang bertanggung jawab penuh untuk menjalankan urusan sebuah pelabuhan, maju, dan mundur, aman dan gawat sebuah pelabuhan itu adalah bergantung kepada kebijakan seorang syahbandar. Selain dari peranan utamanya untuk memajukan pelabuhan ia juga boleh memainkan peranan sampingan untuk mengembangkan agama Islam.  Pada setiap pelabuhan dilantik beberapa orang syahbandar, khususnya dalam kerja-kerja memungut cukai impor dan ekspor. Sejak abad ke-13 Masehi  lagi perdagangan Nusantara kebanyakannya dimonopoli oleh pedagang-pedagang Islam yang terdiri dari bangsa Arab, Farsi, dan India. Sehubungan dengan itu kebanyakan dari mereka dilantik menjadi syahbandar. Pelantikan tersebut biasanya tertakluk kepada kebijaksanaan dan penguasaan berbagai bahsa daerah setempat, karena memudahkan perhubungan dan menjalankan urusan.

e.       Faktor Politik dan Penaklukan

Penaklukan juga merupakan antara faktor yang tidak kurang pentingnya dalam penyebaran Islam di Nusantara. Penaklukan yang dilakukan oleh sebuah negeri Islam ke atas negeri-negeri lain bukan saja menjadikan Raja dan pembesar-pembesarnya negeri yang ditakluk terdorong menganut Islam sebelumnya. Penaklukan tersebut member peluang untuk meningkatkan lagi penyebaran agama suci itu. Sebagai contoh kerajaan Pasai ada abad ke-15 Masehi seperti yang dilaporkan oleh Ibnu Batutah telah menaklukkan negeri-negeri sekitarnya dan Berjaya menyebarkan Islam ke kawasan-kawasan tersebut. 

f.       Kepribadian  Golongan Dakwah dan Ahli-ahli Sufi

Pendakwah-pendakwah merupakan golongan ulama yang berwibawa dalam penyebaran Islam, mereka bukan saja memiliki berbagai ilmu Islam secara mendalam bahkan amat bertaqwa kepada Allah disamping mempunyai kepribadian muslim yang sempurna. Justru itu mereka sangat dihormati dan disanjung tinggi oleh masyarakat, bukan saja oleh orang Islam bahkan yang bukan Islam kepribadian dan tindak tanduk mereka senantiasa dicontohi, kata-kata mereka merupakan kata hikmah yang senantiasa dipatuhi. Berawal dari kepribadian yang tinggi seperti ikhlas, jujur, bertanggung jawab,tidak mencari apa-apa mementingkan diri dakwah yang dilakukan penyebabnya masyarakat Nusantara begitu terpengaruh dengan mereka. Golongan yang mula berjinak dengan Islam lebih bertambah kuat pegangan mereka, sedangkan golongan yang bukan Islam mula mencari dan menyelidiki kebenaran Islam yang ditunjukkan oleh mereka.

Di antara pendakwah yang kedapatan di Nusantara ialah golongan Sufi atau ahli-ahli tasawuf. Mereka terdiri daripada orang-orang yang sangat bertaqwa kepada Allah dan berakhlak mulia. Pribadi dan ketokohan juga pengorbanan suka rela mereka untuk menyebarkan Islam di daerah tersebut menjadikan golongan Raja-Raja, pembesar-pembesar negeri serta rakyat jelata amat terpengaruh dengan Islam. Dikatakan mereka begitu terpengaruh di zaman kekuasaan Malaka, Aceh dan kerajaan Islam Demak. Mereka diberi kedudukan istimewa dalam masyarakat dan setengah-setengah pula diberi keutamaan dalam bidang politik dan kerajaan.

Antara mereka yang diberi kedudukan penting di Malaka ialah seperti Sheikh Ismail, Syd Abdul Azis, Maulana Abu Bakar, Maulana Ishak, Maulana Yusuf dan Sidi Arab. Di Aceh antaranya seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumaterani, Nuruddin Al-Raniri, Abdul Rauf Singkil dan lain-lain. Terdapat pula 22 orang ulama terkenal di Aceh, Majelis Permusyawaratan Negeri (Balai Gadang) pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam (1607-1636 M). Peranan yang mainkan oleh ulama-ulama Sufi dalam bidang tersebut bukan saja menjadikan rakyat jelata terpengaruh dengan Islam. Ketika itu sehingga Aceh merupakan sebuah kerajaan Islam yang teragung dan pusat penyebaran Islam di daerah ini.

g.      Faktor Penulisan dan Kesusasteraan

Penulisan dan kesusasteraan juga menjadi faktor penting dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Seperti yang diketahui bahwa serentak dengan kedatangan Islam, lahirlah ilmu pengetahuan karena agama dan ilmu itu merupakan yang sering bergantungan antara satu sama lain. Al-Qur’an merupakan kitab suci agama Islam dan induk kepada semua ilmu pengetahuan, justru itu Al-Qur’an itu wajib dibaca serta perlu mengetahui segala asas ilmu yang terkandung di dalamnya. Sehubungan dengan itu pengkajian Al-Qur’an merupakan mata pelajaran terpenting dalam kurikulum pendidikan Islam di samping ilmu-ilmu asas yang lain, bagi memudahkan pembacaan Al-Qur’an dan sesuai dengan fonim atau makraja (bunyi huruf) selaras dengan kalimat-kalimat Arab, ulama-ulama dan mubaligh Islam telah memperkenalkan huruf Jawi; berdasarkan abjad Arab campuran Farsi dan Barbar.

Galakan membaca Al-Qur’an dengan secara tidak langsung dapat mengubah masyarakat Nusantara dari hidup berpoya-poya kepada hidup membaca dari buta huruf kepada suasana ilmu. Meneruskan huruf Jawi bukan saja memudahkan membaca Al-Qur’an bahkan dapat mengembangkan  penggunaan bahasa. Kitab-kitab agama yang membicarakan Usuluddin, Feqah dan Tasawwuf dan lain-lain ditulis dengan menggunakan huruf Jawi. Situasi demikian merubah tanggapan dan mempengaruhi budaya masyarakat dari sebelumnya, arahan dan perintah ikut ditulis dengan menggunakan huruf Jawi.

h.      Faktor Kedudukan Islam

Islam adalah agama Samawi, agama yang berasaskan wahyu Allah, suatu syariat yang quddus amat bersesuaian dengan fitrah atau tabii manusia. Ia begitu lengkap dengan peraturan dan disiplin dalam semua aspek kehidupan manusia, yang sekali-kali tidak terdapat kontroversi dengan akal pikiran. Begitu rasional dan sesuai dengan semua lapisan manusia dalam pertukaran zaman dan keadaan tempat. Dalam konteks ini, Islam telah menegaskan  bahwa semua manusia itu sama, tidak ada perbedaan derajat antar mereka disisi Allah, Islam menyatakan bahwa  manusia adalah berasal dari Adam dan Adam itu dijadikan dari tanah, tidak ada lebih mulia antara keturunan Arab dengan yang bukan Arab. Atas dastur inilah ia boleh mendorong penduduk-penduduk Nusantara bagi mengkaji dan menerima Islam sebagai agama mereka.

Di samping itu Islam juga memberikan jaminan dan keadilan sosial kepada semua penganutnya tanpa membedakan antara golongan atasan dengan bawahan antara kaya dengan miskin dan sebagainya. Islam menekankan dasar persaudaraan dunia akherat atau ukhuwwah Islamiah yang berlandaskan syariah Allah yang bersifat universal. Menggalakkan supaya hidup berkasih saying, tolong menolong, hormat menghormati, bersatu padu, bersikap adil, amanah, bertolah ansur, jujur dan ikhlas serta merendahkan diri dengan sifat-sifat Mahmudah dan mengelakkan daripada sifat-sifat Mazmumah, seperti hasad, dengki, sombong, angkuh, zalim, melakukan fitnah dan menindas juga lain-lain.

Semua unsur-unsur keunggulan sosial tersebut merupakan daya tarikan kuatbagi manusia khususnya penduduk-penduduk Nusantara berminat dengan Islam. Penduduk-penduduk Nusantara berabad-abad sebelum itu telah diorientasi dengan sistem masyarakat Hindu yang serba komplek dan rumit terutama mengenai amalan kasta sesama manusia. Masyarakat Hindu mengkategorikan manusia dan pengikutnya kepada beberapa golongan seperti Brahmin, Kesatria, Waisya, Sudra dan Paria. Golongan Brahmin dianggap sebagai yang paling tinggi, suci dan mulia hingga sangat hampir kepada Tuhan. Golongan Ksyatria dan Waisya dianggap sebagai golongan pertengahan, golongan Sudra merupakan golongan bawahan yang mesti tunduk kepada lain-lain golongan. Sedangkan golongan Paria dianggap paling rendah dan sangat hina dan boleh disamakan dengan binatang. Oleh karena Islam begitu sesuai dengan fitrah manusia dan ajarannya mudah diamal, lengkap meliputi segenap aspek kehidupan, menjadikan ia mudah diterima oleh semua penduduk di Nusantara.

Pusat Penyebaran Islam di Nusantara[20]

Seperti yang diketahui bahwa para sejarawan masing-masing masih  berpegang  dengan teori-teori yang dikemukakan mengenai kedatangan Islam di Nusantara. Sungguhpun begitu masing-masing tidak menonjolkan bukti yang konkrit terhadap teori yang menjadi pegangan selain dari yang dianggap tidak jauh perbedaannya. Namun begitu bagi kita generasi yang terendah dengan peristiwa sejarah, tentulah tidak keterlaluan setelah kita meneliti laporan-laporan pemegang teori-teori tersebut, kita lebih cenderung kepada hanya satu teori saja. Berpandu kepada kemunculan Islam, tanggung jawab golongan pertama yang menganut Islam, hubungan awal pedagang-pedagang Asia Barat dengan Nusantara serta dalam pernyataan dari beberapa inskripsi di saat itu, kita lebih setuju bahwa Islam itu dibawa dari tanah Arab.

Peranan-peranan yang dimainkan oleh beberapa buah kerajaan di daerah Nusantara yang dianggap sebagai pusat penyebaran Islam bagi mengembangkan agama Islam suci ini.

A.    KERAJAAN PASAI (1297-1650 M)

Menurut fakta sejarah, sebelum kedatangan Islam lagi penduduk-penduduk Nusantara telah berpegang kepada tiga jenis kepercayaan yakni agama Hindu, Budha dan kepercayaan Animisme (kepercayaan adanya penunggu atau semangat pada sesuatu benda, seperti batu-batu, pohon-pohon yang besar dan lain-lain). Ketiga-tiga kepercayaan tersebut berhasil memainkan peranan bagi menyatu padukan semua penganut-penganutnya. Walaupun kepercayaan agama Hindu dan Budha dicampur adukkan antara satu dengan yang lain dalam aktivitas amalan di samping pengaruh mempengaruhi dalam paham animism tetapi ia senantiasa kontroversi perasaan, jiwa dan pahaman antara penganut masing-masing jelas kelihatan dimana ia sukar diwujudkan perasaan terpadu, kasih saying, dan kerjasama. Sebagai contoh yaitu berlakunya pertikaian antara Majapahit dan Sriwijaya walaupun kedua-duanya menganut kepercayaan yang sama.

Kedatangan Islam ke Sumatera Utara seperti yang didakwa oleh para sejarawan pribumi adalah berlaku sejak abad ke-7 atau ke-8 Masehi. Kenyataan seperti adalah dikumpulkan kepada beberapa laporan awal  serta catatan-catatan Cina. Menurut fakta sejarah memang terdapat hubungan perdagangan  antara orang-orang Arab dengan Nusantara sejak sebelum kedatangan Islam lagi. Kelahiran Islam di semenanjung tanah Arab pada awal abad ke-7 Masehi, setidak-tidaknya member kesempatan pada pedagang-pedagang Arab menganutnya terutama selepas Perencanaan ‘Amul-Wkud pada tahun 630 Masehi. Kedatangan mereka ke Nusantara khususnya di Sumatera Utara yang mempunyai pelabuhan penting ketika itu, di samping menjalankan kegiatan perdagangan ada kemungkinan besar mereka memperkenalkan Islam kepada penduduk-penduduknya.

Laporan I-Tsing pengembara Cina yang singgah ke daerah itu dalam perjalanannya ke India pada tahun 671 Masehi, yang menumpang kapal kepunyaan saudagar Arab, dapat membantu dakwaan sejarawan daerah. Terlebih lagi ada terdapat dalam catatan Cina yang menyatakan terdapat sekumpulan orang-orang Arab yang sampai ke Sumatera pada tahun 684 Masehi dan membuat perkumpulan. Begitu juga pada zaman kerajaan Bani Umaiyah (660-750 M) seperti pada zaman pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sofyan (715-717 M) dan zaman Umar ibn Aziz (717-720) telah melakukan seruan Islam ke daerah Nusantara terutama di daeerah-daerah kerajaan Sriwijaya. Dikatakan pada tahun 718 Masehi Srindravarman Raja Sriwijaya terkenal sebagai kerajaan Sribuza Islam.

B.     KERAJAAN MALAKA (1409-1511 M)

Pertumbuhan negeri Malaka dikatakan pada kaitan dengan terjadinya perang saudara di Majapahit setelah kematian Hayam Wuruk (1360-1389 M) seorang pemerintah yang termashur dalam kerajaan tersebut. Pada tahun 1401 meletus perang saudara karena merebut tahta kerajaan antara Wirabumi di Jawa Timur dengan Raja Wikrama Wardhana, Majapahit. Dalam masa perang saudara di Majapahit itulah dikatakan kerajaan Siam (Sukothai) mengambil kesempatan meluaskan pengaruhnya hingga ke negeri-negeri di Selatan Tanah Melayu, termasuk Pahang, dan Tamasek (Singapura) jatuh di bawah kekuasaannya.

Dalam perang saudara di Majapahit itu, Parmeswara (Permaisura), putra Raja Palembang-Sriwijaya dari Dinasti Sailendra, turut terlibat karena beliau telah kawin dengan salah seorang putri Majapahit. Oleh karena pihak yang dibantunya gagal, beliau juga turut terancam, sehubungan dengan itu beliau beserta pengikut-pengikutnya terpaksa melindungi diri di Temasek, karena pulau tersebut ketika itu dibawah Empayar Siam. Temasek pada masa itu lebih merupakan sebuah daerah atau perkampungan kaum nelayan, diperintah oleh seorang wakil Raja Siam bernama Tamagi. Parameswara diberi perlindungan dibenarkan tinggal di sana. Oleh karena inginkan kekuasaan akhirnya beliau berhasil membunuh Tamagi dan berhasil menjadi pemerintahannya. Setelah berita pembunuhan tersebut diketahui oleh Raja Siam, ia memberi kuasa kepada pemerintah Pahang atau Raja Petani bertindak. Pada tahun 1402 Masehi, Parameswara dikatakan pergi ke Muar dan akhirnya ke Malaka.

Malaka ketika itu merupakan sebuah kampung kecil yang didiami oleh sebagian kecil kaum-kaum nelayan yang kerja mereka sebagian perampok kapal-kapal dagangan yang datang dari Barat ke Timur. Beliau dilantik menjadi pemerintah oleh pengikut-pengikutnya dan penduduk asal di sana. Lama kelamaan Malaka mulai menjadi ramai dan masyur, lebih-lebih lagi setelah tibanya orang-orang Minangkabau untuk membuka kawasan tempat tinggal. Menurut ahli-ahli sejarah terdapat beberapa faktor yang menyebabkan Parameswara memilih Malaka sebagai kediamannya, antara lain ialah :

1.      Mempunyai lahan datar yang luas, sesuai dijadikan sebagai tempat tinggal dan kawasan cocok tanam.
2.      Kedudukannya di penghujung Selatan Malaka, dapat dijadikan sebagai pusat kapal-kapal yang beredar di Selatan tersebut.
3.      Bukit-bukit yang berada berdampingan tanah datar dapat digunakan sebagai benteng keselamatan dan pertahanan.
4.      Letaknya bertentangan dengan Sumatera yang kaya dengan keperluan perdagangan seperti Beras, Lada Hitam, Kapur, Remah, Emas dan lain-lain.
5.      Faktor yang terpenting sekali karena kedudukannya ditengah-tengah perjalanan laut antara Asia Barat, Farsi, India dengan Cina. Sesuai dijadikan sebagai pelabuhan perantara atau pelabuhan internasional, di samping dapat menarik minat pedagang-pedagang asing membuat penempatan sementara untuk menantikan angin segar yang sesuai.

C.                  KERAJAAN ACEH (1511-1650 M) 

Pada abad ke-15 Masehi, Malaka merupakan pusat kegiatan agama dan kebudayaan Islam di Asia Tenggara. Setelah kejatuhannya ditangan Portugis pada tahun 1511 Masehi peranan yang dimainkannya selama ini telah lenyap. Namun demikian dengan kemunculan kerajaan Aceh negeri itu berhasil mengambil alih tugas-tugas yang dimainkan oleh Malaka sebelumnya. Kerajaan merupakan suatu kesinambungan dari kerajaan Islam Pasai yang pernah ada sebelum kelahiran kerajaan Malaka lagi. Daerah pemerintahan Pasai kemudiannya telah berpecah kepada beberapa wilayah kecil, justru seorang dari keturunan Raja Pasai bernama Raja Ibrahim menyatu padukan semula wilayah tersebut dengan menjadikan Kerajaan Aceh.

Raja Ibrahim menjadi Raja Aceh pertama bergelar Sultan Alaiddin Ali Mughayat Syah (1511-1530 M). Pada zaman kegemilangannya, Aceh merupakan sebuah empayar Islam yang gagah serta berpengaruh di Asia Tenggara. Mempunyai wilayah takluk yang luas di Sumatera dan juga Tanah Melayu seperti Haru (Aru), Deli, Siak, Asahan, Tanjung Balai, Panai, Rokan, Indra Giri dan Salida. Di Tanah Melayu seperti Johor, Pahang, Perak, Kedah dan lain-lain. Kedudukannya yang terletak di Sumatera Utara dan berhasil menguasai pantai baratnya juga perairan Selatan Melayu merupakan suatu strategi bagi penguasaan perdagangan antara India dengan Cina.
   
  Pengaruh Islam dalam Pendidikan[21]

1.                  Pengajian Islam di Malaka
Kedatangan Islam ke Tanah Melayu pada peringkat awal dikatakan berlaku pada abad ke-12 Masehi. Oleh karena tidak terdapat bukti atau kesan peningkatan sejarah adanya bukti, institusi pendidikan Islam di negeri-negeri Melayu dimulai dari Malaka yang merupakan sebuah kerajaan Melayu-Islam yang teragung di daerah ini sekitar abad ke-15 Masehi. Menurut sejarah, Malaka bukan saja sebagai sebuah kerajaan yang luas pemerintahannya tetapi sangat terkenal sebagai sebuah kerajaan yang begitu aktif dalam bidang pengajian dan pendidikan Islam.

Sejak penerimaan Islam oleh Parameswara pada tahun 1414 Masehi, kegiatan Agama dan pendidikan Islam di usahakan secara bersungguh-sungguh oleh ulama-ulama dan mubaligh-mubaligh. Seluruh masyarakat yang terdiri dari golongan Raja-Raja, pembesar serta rakyat jelata di suguhkan dengan ilmu pengetahuan Islam. Dari kegiatan dakwah dan pendidikan Islam itulah mereka berhasil merubah sikap dan konsepsi masyarakat terhadap pegangan agama, kedudukan dan ilmu pengetahuan. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, rumah-rumah, masjid, surau serta istana-istana dijadikan sebagai institusi pendidikan.

Fungsi istana diwaktu itu disamping menjadi tempat bermuzakarah ilmu pnegetahuan ia juga berperan sebagai perpustakaan, tempat penterjemahan dan penyalinan kitab-kitab. Menurut Hall, istana-istana Malaka selain dari berfungsi sebagai pusat pengajian Islam ia juga menjadi pusat dakwah oleh ulama-ulama untuk menyebarkan Islam di daerah ini.

2.                  Ke arah Pendirian Sekolah Melayu

Oleh pelajaran Al-Qur’an merupakan mata pelajaran dasar atau asas dalam kurikulumnya, rata-rata masyarakat Melayu menamakannya sebagai “Sekolah Qur’an”. Kesadaran untuk mengubah struktur pengajian tradisional Melayu, kepada tahap yang lebih baik dan sempurna oleh penjajah Inggris, telah terbayang pada awal abad ke 19 Masehi. Stamford Rafles yang dating ke Malaka pada tahun 1810 Masehi, berkesempatan meninjau institusi berkenaan terutama dengan itu beliau membuat saran supaya pihak kerajaan menyediakan tempat belajar yang lebih sesuai di samping membuat beberapa perubahan yang perlu.

Saran Raffles itu ditolak oleh pihak penjajah Inggris, karena ia bertentangan dengan dasar penjajahan mereka. Mengadakan sistem sekolahan yang baik kepada penduduk-penduduk, sekolah-sekolah mencoba menyingkapi tabir kejahilan bangsa yang di jajah, untuk bertindak untuk melepaskan diri dari penjajah. Lebih-lebih lagi mereka berpendapat, mengadakan kemudahan pelajaran kepada anak-anak negeri bukanlah menjadi tugas kerajaan. Sebaliknya membiarkan anak-anak negeri dalam keadaan buta huruf dan mundur. Sehingga merugikan mereka terutama dalam aspek ekonomi dan masyarakat dalam jangka panjang. Untuk menimbang situasi itu, kemudian suatu jalan tengah telah diambil; yaitu dengan mengadakan suatu sistem pendidikan, dimana keseluruhan aspek dan system nilai serta kebudayaan dengan pengaruh kebudayaan, sikap dan pandangan Barat. Justru itu pada awal abad ke-9 Masehi, system pendidikan Barat berbentuk formal, telah diperkenalkan di Tanah Melayu terutama di negeri-negeri Selatan seperti Pulau Pinang, Malaka dan Singapura. Penang Fee School di awal pada tahun 1816, Singapore of School  pada tahun 1823, sedangkan Malaka Fee School 1826 disamping Penang Fee School  sebagai sekolah induk, dibuka pula di bawahnya sekolah-sekolah menengah, seperti sekolah Melayu Gelugur, Air Hitam dan Bayan Lepas. Sekolah-sekolah tersebut menghadapi kegagalan pada tahun 1953 Masehi, karena kurang mendapat perhatian dari masyarakat.

3.                  Kemunculan Pondok di Tanah Melayu
Pengaruh pelajaran dan pendidikan Islam yang berakar semenjak kedatangan Islam ke Tanah Melayu yang beroperasi di rumah, mesjid dan surau masih berwibawa selepas kejatuhan Malaka. Penjajah-penjajah Barat Khususnya penjajah Inggris pada abad ke-19 Masehi, telah mengambil sikap diplomasi untuk merubah struktur pengajian Islam yang berpusat di rumah terkenal sebagai “Sekolah Qur’an” itu dijadikan “Sekolah Melayu”. Namun demikian pengajian Islam yang diasingkan di sebelah sore, terkenal sebagai “Sekolah Sore”, tetapi berfungsi bagi kelanjutan hidup pelajaran dan pendidikan Islam peringkat awal yang menjadi warisan bangsa.

Namun begitu orang-orang Melayu tidak semuanya berada sekedar pengajian di sekolah sore itu bahkan ada diantara mereka yang berusaha mempertingkatkan pengajian Islam ke tahap yang lebih tinggi. Anak-anak di kirim ke luar negeri dan ada juga yang melanjutkan pelajaran mereka di institusi-institusi setempat. Institusi pengajian Islam setempat yang dibangun secara swasta mempunyai struktur pengajian yang lebih teratur dan komprehensif mengandung peringkat rendah dan menengah terkenal sebagai institusi “Pengajian Pondok”. Struktur pembelajaran dan pendidikannya lebih diyakini untuk membentuk kepribadian muslim yang sempurna dan ilmuan Islam yang berwibawa.

BAB III
Kesimpulan dan Saran
A.   Kesimpulan
Kedatangan Islam ke wilayah Asia Tenggara diduga karena proses perdagangan dan bukan melalui proses penaklukan suatu wilayah. Hal ini bisa dilihat dari peranan wilayah Asia Tenggara pada saat itu sebagai salah satu jalur perdagangan yang diminati oleh para pedagang. Jalur perdagangan itu masyur dikenal sebagai jalur sutra laut yang membentang dari mulai Laut Merah- Teluk Persia- Gujarat- Bengal- Malabar- Semenanjung Malaka- hingga ke China.

Teori-teori masuknya Islam ke Asia Tenggara sebagaimana yang telah masyur adalah ada tiga kemudian berkembang menjadi empat pada saat ini, yaitu:
a. Teori Arab

b. Teori India

c. Teori Persia, dan

d. Teori China

Dengan keberadaan jalur perdagangan ini, memudahkan dalam penyebaran agama Islam, terutama di wilayah pesisir pantai hingga akhirnya masuk ke wilayah pedalaman. Selain itu penguasaan wilayah pesisir oleh komunitas muslim pada saat itu semakin mempermudah penyebarluasan dakwah dan syiar Islam kepada penduduk pribumi.

Kebanyakan tulisan mengenai asal mula Indonesia di Asia Tenggara, biasanya dimulai dengan Pasai dan kota-kota pelabuhan lain sepanjang pesisir timur Sumatera. Sayang, para ahli sejarah sosial Islam tidak banyak menaruh perhatian pada perkembangan di kawasan ini, dan koleksi makalah-makalah yang sangat baik mengenai kota Islam yang disunting oleh A.H. Hourani dan S.M. Sten, tidak menyinggung Asia Tenggara.
Beberapa faktor yang mendorong penyebaran Islam secara lebih positif di saat ini dimana antara faktor-faktor tersebut ada perkaitan atau pengaruh yang mempengaruhi antara satu sama lain :

a.       Faktor Perlombaan Penyebaran Agama
Kepulauan Nusantara berangsur-angsur menerima perubahan akibat pengaruh yang dibawa oleh Islam di samping  perkembangan pesat perdagangan dengan luar negeri. Kemasyuran itu menarik minat  bangsan Barat terutama orang-orang Portugis melakukan imigrasi ke daerah ini. Dengan penghijrahan itu mendorong untuk mempercepat serta mempergiatkan lagi penyebaran agama Islam id daerah ini. Pada hakikatnya motif kedatangan Portugis ke Nusantara selain dari tujuan perdagangan ialah bertujuan pengembangan agama Kristen.

b.      Faktor Perkawinan
Dalam mengembangkan lagi dakwah Islamiah, perkawinan juga dapat memainkan peranan secara lebih mantap dan berkesan. Perkawinan yang biasa berlaku disini dalam periode permulaan Islam ialah perkawinan antara saudagar-saudagar Islam dengan gadis-gadis  pribumi, terutama putrid-putri di kalangan istana dan pembesar-pembesar  negeri. Begitu juga perkawinan antara seorang Raja dengan putrid-putri  Raja di negeri jiran atau di negeri yang di taklukinya. Kedua struktur perkawinan itu merupakan faktor pembantu dalam menyebar Islam di daerah ini.

c.       Faktor Perdagangan
Kegiatan perdagangan antara Arab, Farsi dan India dengan Nusantara dikatakan telah berlaku sejak beberapa abad sebelum masehi lagi hingga ke zaman kedatangan Islam pada abad ke-17 dan ke-8 Masehi. 
d.      Faktor Penguasaan Syahbandar
Syahbandar merupakan orang yang bertanggung jawab penuh untuk menjalankan urusan sebuah pelabuhan, maju, dan mundur, aman dan gawat sebuah pelabuhan itu adalah bergantung kepada kebijakan seorang syahbandar. Selain dari peranan utamanya untuk memajukan pelabuhan ia juga boleh memainkan peranan sampingan untuk mengembangkan agama Islam.  

e.       Faktor Politik dan Penaklukan
Penaklukan juga merupakan antara faktor yang tidak kurang pentingnya dalam penyebaran Islam di Nusantara. Penaklukan yang dilakukan oleh sebuah negeri Islam ke atas negeri-negeri lain bukan saja menjadikan Raja dan pembesar-pembesarnya negeri yang ditakluk terdorong menganut Islam sebelumnya.
f.       Kepribadian  Golongan Dakwah dan Ahli-ahli Sufi
Pendakwah-pendakwah merupakan golongan ulama yang berwibawa dalam penyebaran Islam, mereka bukan saja memiliki berbagai ilmu Islam secara mendalam bahkan amat bertaqwa kepada Allah disamping mempunyai kepribadian muslim yang sempurna. 

g.      Faktor Penulisan dan Kesusasteraan
Penulisan dan kesusasteraan juga menjadi faktor penting dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Seperti yang diketahui bahwa serentak dengan kedatangan Islam, lahirlah ilmu pengetahuan karena agama dan ilmu itu merupakan yang sering bergantungan antara satu sama lain.

h.      Faktor Kedudukan Islam
Islam adalah agama Samawi, agama yang berasaskan wahyu Allah, suatu syariat yang quddus amat bersesuaian dengan fitrah atau tabii manusia. Ia begitu lengkap dengan peraturan dan disiplin dalam semua aspek kehidupan manusia, yang sekali-kali tidak terdapat kontroversi dengan akal pikiran. Begitu rasional dan sesuai dengan semua lapisan manusia dalam pertukaran zaman dan keadaan tempat.

B.   Saran
Kami sadar bahwa lembar analisis ini sangat jauh dari kesempurnaan. Untuk itu diperlukan kritik dan saran sebagai pembelajaran bagi kami yang dalam tahap belajar.


Daftar Pustaka
Al-usairy, Ahmad. Sejarah Islam; sejak zaman nabi adam hingga abad 20, terjemahan Samson Rahman. Jakarta:Akbar Media Eka Sarana, cetakan ke 4.
Dkk, Muhaimin, Prof. Dr. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Jakarta:Prenada Media. 2005.
Ensiklopedia Islam, Jilid 3. Jakarta:Depag. 1993.
Suhaimi, Drs. H. M.Ag. Cahaya Islam di Ufuk Asia Tenggara. Pekanbaru: Suska Press UIN Suska Riau. 2006.
Su’ud, Abu, Prof.DR. ISLAMOLOGI Sejarah, Ajaran,dan peranannya dalam peradaban umat manusia. Jakarta:Rineka Cipta, 2003.
Syalbi, Ahmad Tarikh al Islamiy wa al hudarah al Islamiyyat, jilid 1. Jakarta:Pustaka Alhusna, 1994.
Syalbi, Ahmad. Tarikh Islam, Jilid 1.Jakarta:Pustaka Alhusna, 1994.
Syalbi, Ahmad. Sejarah dan Kebudayaan Islam, terjemahan Muhammad Labib Ahmad.Jakarta:Husna Dzikra,


[1] Lihat Fadhil Al-Jamali, menerabas krisis pendidikan dunia Islam,(terj.) H.M Arifin (jakarta : Golden Terayon Press, 1992), cet.II hlm. 11-12.

[2]Muhammad Iqbal adalah salah seorang intelektual muslim dari pakistan yang pemikirannya dalah bidang keIslaman sangat banyak dikenal antara lain melalui karyanya yang berjudul The Recontruction of Religious Thought in Islam ( Membangun Kembali Pikiran Agama Islam ). Didalam buku tersebut ia berbicara tentang ibadah, kemanusiaan, kebudayaan, dan gerakan dalam struktur Islam.

[3]Didalam alquran banyak kita jumpai ayat-ayat yang menyuruh agar umat manusia memeluk agama Islam.

[4]Yang dimaksud emosional semata-mata adalah perasaan cinta yang buta, cinta ikut-ikutan tanpa diberikan alasan mengapa harus mencintainya. Cinta yang demikian seringkali mendahulukan emosi daripada akala sehat, walaupun emosi itu jika diperlukan pada tempatnya. Namun emosi saja tidak cukup perlu di lengkapi dengan argumentasi rasional.

[5]Kita menyaksikan pembajakan pesawat yang di tabrakkan secara mengerikan ke gedung Warld Trade Center (WTC) di Amerika Serikat. Peristiwa yang menelan korban ribuan jiwa serta kerugian harta benda yang mencapai milyaran dollar, menurut Amerika Serikat karena didalangi oleh kelompok teroris Osama Bin Laden. Karena Osama Bin Laden adalah orang Islam maka menimbulkan citra negatif terhadap Islam.

[6]minuman keras dapat merusak dan menghilangkan akal sehat, perbuatan yang tidak terkontrol yang mengakibatkan timbulnya pertengkaran dan perbuatn tercela lainnya. Seperti perbuatan zina dan lain lain sebagainya.
[7]Rukun iman yaitu iman kepada Allah swt, iman kepada malaikat-malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab suci-Nya, iman kepada rosul-rosul dan nabi-nabi-Nya, iman kepada hari kiamat dan iman kepada taqdir baik dan taqdir buruk.
[8]Wanita pada zaman jahiliyah sangat hina, mereka dijadikan sebagai alat pelayanan atau sebagai alat pemuasan nafsu laki-laki
[9]Sabda nabi: “satu orang wanita soleh lebih baik daripada seribu orang laki-laki yang tidak soleh”.
Begitulah nabi memuliakan seorang wanita. Sehingga suatu hari di tanya oleh sahabat, siapa yang pertama harus dihormati, beliau jawab: “ibu” sampai tiga kali baru nabi menjawab: “ayah”. Dan juga beliau bersabda “ syurga berada ditelapak kaki ibu”. Alangkah mulianya wanita setelah nabi muhammad membawa ajaran Islam.
[10] Louis Ma’luf, L-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986), hlm. 8.
[11] Majdid Wahab, Kamil al-Muhandis, Mu’jam al-Mushthalahat al-Arabiyah fi al-Lughah wa al-Adab, (Beirut: Maktabah Lubanani, 1984 ), hlm. 82.
[12] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1998), hlm. 794
[13] Drs. H Suhaimi, Cahaya ISLAM di ufuk Asia Tenggara, (Pekanbaru: Suska Press UIN Suska Riau,2006)   Hal. 1
[14] Ibid,  hlm. 2
[15] Ibid, hal. 3
[16] Ibid, hal. 18
[17] Ibid, hal. 13
[18] Ibid, hal 21
[19] Ibid, Hal. 84
[20] Ibid, hal. 96
[21] Ibid hal. 113

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Berkomentar lah dengan yang sopan yang tidak mengandung unsur SARA, PORNOGRAFI, Dan TIDAK diperkenankan untuk PROMOSI selain Persetujuan dari ADMIN. Jika di lakukan, Maaf komentar akan DI HAPUS.

Untuk menggunakan Emoticon Komentar, Klik Emoticon yang akan di pasang. Akan muncul kode emoticonnya. Masukkan itu pada saat berkomentar. Terima Kasih
EmoticonEmoticon