Sejarah dan Perkembangan Islam di Siangapura


-Sejarah dan Perkembangan Islam di Siangapura


BAB I
PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang


Islam di Singapura merupakan agama minoritas. Berdasarkan data pada
2008, sekitar 15 persen penduduk Singapura yang jumlahnya 4.839.000 adalah
Muslim. Mayoritas kelompok etnik Melayu di Singapura memeluk Islam. Selain itu,
pemeluk Islam meliputi kelompok etnik India dan Pakistan, juga sejumlah kecil
kelompok etnik Cina, Arab, dan Eurasia. Sekitar 17 persen muslimin Singapura
berasal dari kelompok etnik India. Kaum muslim di Singapura secara tradisi
merupakan muslim Sunni yang mengikuti mazhab Syafi’i. Sebagian muslim
Singapura mengikuti mazhab Hanafi. Ada juga kelompok muslim Syiah di
Singapura.

Dalam pengertian persentase etnis, penduduk Singapura relatif stabil
semenjak pertengahan abad ke-19. Perubahan demografik yang mengesankan terjadi
pada awal abad ke-19, ketika penduduk Cina secara perlahan mulai mengambil alih
menjadi penduduk mayoritas yang menonjol dibanding yang bersuku Melayu. Sejak
tahun 1891 jumlah penduduk Cina Singapura adalah 67.1%, Melayu 19.7%, India
8.8% dan yang lain-lain, termasuk Eropa dan Arab, 4.3%. Sensus yang dilakukan
pada tahun 1990 menunjukkan keseluruhan penduduk Singapura berjumlah 2.7 juta
orang. Komposisi penduduknya terdiri dari mayoritas Cina dengan 77.7%, Melayu
14.1%, India 7.1 % dan warga lainnya 1.1% (J.L. Esposito, 1995:76). Sementara itu
kalau jumlah penduduk dilihat dari komposisi keagamaannya pada sensus yang
sama tahun 1990 adalah sebagai berikut: pengikut Budhha 31.1%; Taoisme 22.4%;
Islam 15.3%; Kristen 12.5%; Hindu 3.7% dan agama lain 0.6% (Sharon Siddique,
1995:1). Dilihat dari komposisi keagamaan, etnis Melayu secara mayoritas
merupakan pemeluk agama Islam. Atau bahkan bisa dikatakan bahwa etnis Melayu
berarti Islam.

Komposisi penduduk Melayu yang 14.1% adalah sama dengan 380.600
orang. Dilihat dari segi tingkat pendidikannya adalah: Pendidikan Non-Formal
15.1%; Pendidikan dasar 32.7%; Pendidikan Sekolah Menengah Pertama 47.3%;

Pendidikan Sekolah Menengah Atas 3.5% dan Pendidikan Tinggi 1.4%. Sedang
apabila dilihat dari komposisi pekerjaannya adalah: Bidang Teknik dan Professional
9.7%; Bidang Administrasi dan Managerial 1.1%; Ulama dan Guru Agama/Profesi
Keagamaan 15.4%; Sales dan Servis 14.0%: Pertanian dan Nelayan 0.3%; Produksi
dan Relasi 13 57% dan lain-lain 2.5%. Mengenai partisipasi kerja antara laki-laki
dan perempuan adalah: laki-laki pekerja 78.3% dan wanita pekerja 47.3% (Sharon
Siddique, 1995:4). Dalam dua puluh tahun, antara tahun 1970 sampai tahun 1990,
menurut Sharon Siddique, telah terjadi perubahan yang dramatis atas Muslim-
Melayu Singapura. Telah terjadi peningkatan, misalnya dalam bidang pendidikan:
untuk pendidikan tingkat menengah pertama dari 36.4% menjadi 47.3%; pada
tingkat menengah atas dari 1.0% menjadi 3.5% dan pada pendidikan tinggi dari
0.2% menjadi 1.4%. Dalam bidang pekerjaan, yang paling menarik adalah
menurunnya prosentase dalam bidang pertanian (dari 5.3% menjadi 0.3%); sales dan
pelayan (dari 27% menjadi14.%), dan menaiknya secara tajam pada bidang produksi
(43% menjadi 57%). Pergeseran juga terjadi pada kemampuan keahlian etnis
Melayu untuk mengikuti perkembangan teknologi tinggi. Karena upah yang lebih
tinggi hanya mungkin diperoleh dengan tingkat keahlian dan produktifitas yang
tingi. Rata-rata pendapatan keluarga perbulan adalah S$ 2,246 % (Sharon Siddique,
1995:4).

1.2. Rumusan Masalah

Berikut rumusan masalah dari makalah ini :
1) Sejarah masuknya Islam ke Singaoura?
2) Bagaimana perkembangan Islam di Sinagpura?
3) Apa saja peranan MUIS di Singapura?
4) Pendidikan Islam di Singapura?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Singapura di Asia Tenggara

Menurut sebuah legenda yang tercantum dalam sejarah Melayu, seorang
Tamil putera raja bernama Sang Nila Utama dan Isterinya bernama Wan Sri Bini
(puteri Banten) bersama-sama dengan pengikutnya berangkat dari Banten yang
kemudian berlabuh disebuah pulau di Selatan Semenanjung Malaya. Disaat mereka
naik kedaratan, Sang Nila Utama melihat se-ekor binatang buas melintasi jalan yang
akan mereka lalui; binatang itu lebih besar dari kambing, badan binatang itu
berwarna cokelat, lehernya berwarna hitam, dan dadanya berwarna putih, binatang
itu ternyata singa. Sang Nila Utama menganggap peristiwa itu merupakan petanda
baik. Maka kemudian ia memberi nama wilayah yang dimasuki itu dengan
Singapura, artinya kota singa. 1

Singapura adalah sebuah pulau yang terletak diujung Semananjung Tanah
Melayu, yang awalnya bernama "Pulau Ujung" (Pu-Lo-Chung), "Salahit" -Selat,dan
berikutnya Temasek", "Tumasik"(Jawa),"Tam-ma-sik"(China). Istilah Singapura
sediri muncul pada tahun 1299 ketika Pangeran Sang Nila Utama singgah di pulau
ini dan menemukan seekor binatang seperti Singa, sehingga pulau itu disebut Lion
City(Kota Singa). Versi lain mengatakan bahwa pada abad ke-14 pulau ini menjadi
tempat singgahnya para pedagang Majapahit sehingga Singapura bararti “kota”
(Pura) “singgah” (Singgah).

Sebagai sebuah negara imigran yang era modernnya selalu dihitung sejak
Stamford Raffles menemukan pada tahun 1819, mendapatkan kemerdekaan
penuhnya pada 9 Agustus 1965 dan selanjutnya bergabung menjadi salah satu
anggota PBB dengan presiden pertama Yusof bin Ishak.
Penduduk Negara pulau ini adalah multi etnis. Dari jumlah penduduk
4.131.200 jiwa, etnis China sebanyak 79.7%, Melayu 13.9%, India 7.9%, dan etnis

1 Hsu Yun-ts’iao, “Notes On The Historial Position Of Singapure”, Malayan History, Journal,
Singapore, 1992, hal 226.


lain sekitar 1.5%.2 dengan demikian etnis China adalah etnis mayoritas, disusul
Melayu dan India. Etnis melayu sebagian besar berasal dari imigran Sulawesi,
Bawean, dan lain-lain.

Singapura menganut sistem sekuler, di mana pemerintah menerapkan
netralitas terhadap semua agama yang ada. Berdasarkan hasil sensus tahun 2000,
diketahui bahwa penduduk singapura yang berumur di atas 15 tahun menganut
beberapa agama, yaitu Budha 42.5%. Islam 14.9%, Kristen 14.6%, Tao 8.5%, Hindu
4.0% dan Agama lain (Yahudi, Zoroaster,dll 0.6%). Kecuali itu, masih ada sekitar
14.8% yang tidak memiliki atau menganut agama tertentu.
Semenjak akhir abad ke-14 sampai tahun 1511, Singapura menjadi wilayah
bagian dari kerajaan Malaka. Dan dalam abad ke-18 Singapura berada dibawah
kekuasaan kerajaan Johor, dan kemudian menempatkan seorang Tumenggung di
Singapura sudah menjadi pelabuhan Transito yang penting sebagai jalur
perdagangan antara barat dan Cina, sehingga orang Barat akhirnya sangat menaruh
perhatian terhadap fungsi pelabuhan Singapura. Inggris bermaksud untuk
menciptakan Singapura menjadi kota pelabuhan yang akan menjadi kota transit
antara jalur India dan Cina, oleh karena itu pada tahun 1818 Gubernur Jendral
Inggris di India memerintahkan Sir Thomas Stamford Raffles untuk menguasai
Singapura.
Islam dan mengubah namanya menjadi Megat Iskandar Syah (James Nach,
1976:24-25). Setelah peristiwa tahun 1402-1403, selama 400 tahun kemudian Singapura
menjadi daerah yang tidak bertuan. Menjadi daerah yang ditinggalkan manusia.
Singapura menjadi tempat tinggal para bajak dan perompak (W.S. Morgan, 1956:21).
Pada kurun sejak ceritera ditemukannya sampai ditinggalkan penduduknya, tidak ada
gambaran yang jelas mengenai agama yang dianut oleh penduduk Singapura. Perkiraan
yang mungkin dikemukakan adalah agama Hindu dan agama pagan yang sifatnya
animistis dan dinamistis, sebagai keumuman agama-agama asli Nusantara

2 http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura, 25/05/2010,12:34WIB


2.2. Posisi Melayu-Muslim di Singapura

1. Ekonomi

Dibanding dengan Negara-negara minoritas muslim lainnya di kawasan
Asia-Tenggara, Singapura merupakan sebuah Negara yang relative kaya. Hal ini
secara teoritis tentunya berdampak pula pada kondisi umat islamnya.
Sejarah Melayu Singapura menunjukkan pada awalnya kondisi ekonomi
masyarakat Melayu-Muslim sangat berbeda dengan kondisi hari ini. Mereka
bekerja pada sektor-sektor strategis dan 70% bekerja dikawasan kota, hanya
30% saja yang bekerja di kawasan kampung. Hal ini sebagai bukti bahwa sejak
awal orang Melayu-muslim telah menjadi etnis yang memiliki tingkat ekonomi
yang memuaskan. Dengan demikian, orang Melayu identik dengan nuansa hidup
kota.3

Kondisi ini amat berbeda dengan yang terjadi saat ini. Sekarang, secara
umum tingkat perekonomian Melayu-muslim berada jauh di bawah etnis lain.
Bahkan, mereka selalu disebutkan kelompok marjinal secara ekonomi. Ini
disebabkan arus imigran Cina terus meningkat dan leluasa memasuki kawasan
Singapura.

2. Seni dan Budaya

Sebuah tesis Ph.d oleh Betts, seorang ahli sains politik Amerika,
mengklaim bahwa masyarakat melayu gagal untuk merubah dirinya sebelum
tahun 1959. Ia menuliskan bahwa banyak perkara tentang cara hidup orang
melayu diakui umumnya tidak selaras dengan keadaan dan kemajuan yang pesat
di Singapura. Disisi lain, factor-faktor intrinsik dalam masyarakat Melayu
menghalangi penerimaan ataupun internalisasi secara pesat akan perubahan. Dia
menganggap bahwa kampung-kampung dipinggiran Singapura pada Hakikatnya
bersifat perdesaan. Faktanya Banyak orang melayu yang merasa puas hanya



dengan bermata pencarian menangkap ikan, bertani, dan aktivitas lain yang
bercorak tradisional tanpa mempedulikan perkembangan zaman.4

Hal senada juga diungkapkan oleh Badlington dalam desertasinya (1974)
bahwa masyarakat Melayu belum dapat merubah dirinya sebelum tahun 1959.
Masyarakat melayu selalu dihalangi oleh kekangan-kekangan budaya yang
mendefinisikan menurut garis etnis. Orang bukan Melayu telah bejaya
memutuskan diri sama sekali dari pada kokongan tradisi yang menghalang
pembangunan ekonomi, akan tetapi masyarakat Melayu terus terpengaruh oleh
gerak budaya yang bertentangan. Badlington juga menjelaskan bahwa
pandangan orang Melayu tentang rezeki mengakibatkan fatalisme (menyerah
pada takdir) dan tidak ada usaha untuk meraihnya.
Bagi Badlington, kaum-kaum lain di Singapura telah berubah sedangkan
orang melayu tinggal beku dan tinggal sejarah, dikekang oleh nilai-nilai budaya
mereka. Nilai-nilai yang dibincangkan oleh Badlington terdiri hanya dari pada
yang dianggapnya sebagai negative bagi kemajuan orang Melayu. Nilai-nilai ini
digambarkan sebagai cirri-ciri budaya yang kekal dan diretifikasi secara abstrak
dari pada konteks social dan materialnya

Menanggapi isi dari pada desertasi Badlington, yang secara umum
memarginalkan kertepurukan ekonomi orang Melayu dilatarbelakangi oleh
adanya budata yang kaku dan katalis yang nota bene bersumber dari syariat
Islam berupa Al-Qur’an dan Hadist, perlu disanggah keabsahannya. Justru
sebenarnya penjelasan-penjelasan kemunduran Melayu bukan semata-mata
berasal dari sumber budaya Melayu yang juga melibatkan tafsiran Al-Qur’an.
Akan tetapi juga berasal dari diskriminasi dan perbedaan kesempatan yang
diberikan kepada orang Melayu dan etnis Cina pada awal 1970-an.
Memang harus diakui bahwa mundurnya social budaya orang Melayu
dan minimnya semangat untuk bekerja, khususnya menyoroti kaum wanitanya
disebabkan masih dangkalnya pemikiran dan interfretasi umat dalam memahami
syariat. Khususnya tafsiran yang salah kaprah terhadap Islam, dimana pada masa
ini banyak sikap pasif terhadap agama yang dilihat orang Melayu sebagai
menjamin masa depan tanpa perlu berusaha, cukup menyerah pada takdir dan
usaha untuk mengembangkan karir hidupnya, hanya dengan mencukupi biaya
hidup dalam jangka pendek.

Namun disisi lain, pada kenyataannya, banyak surat kabar di Singapura
yang sengaja menggemborkan keterpurukan ekonomi dan social budaya Melayu
identik dengan perdesaan. Publikasi yang diedarkan oleh berbagai surat kabar
seperti The Miror dan Akhbar Kebangsaan dalam terbitan utamanyamenegaskan
bahwa Melayu kedesaan sifatnya. Isu-isu negative dari surat kabar ini, akhirnya
dibantah oleh sebuah penerbitan khas keluaran Majelis Hal-Ehwal Islam yang
menandaskan bahwa kenyataannya orang-orang melayu banyak yang memiliki
propesi tinggi di perkotaan, bukan hanya sebatas nelayan, tukan kebun dan
pekerjaan-pekerjaan perdesaan lainnya.

Bila diteliti pula tentang budaya Melayu yang ingin menjalin antara
etnis, biasanya perkawinan yang dianggap paling selaras adalah pekawinan
antara dua komponen yang berbeda suku namun masih dalam satu agama.
Perkawinan semacam ini dianggap selaras atau sekupu, karena antara dua belah
pihak masih memiliki satu visi dan misi, seiman dan seagama dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari.
3 www.halamansatu.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=164, 26/05/2010/,
09:17WIB
4. muhnur.blogspot.com

3. Politik

Mencermati akar persoalan yang sering muncul dikalangan minoritas
muslim, mengingat serangkaian konflik antara pihak minoritas dengan mayoritas
biasanya terletak pada tarik-menarik kepentingan di tingkat politik. Umat Islam
pada umumnya menyakini bahwa agama mereka diturunkan oleh tuhan untuk
mengatur kehidupan umat manusia baik ditingkat individu maupun kolektif.
Oleh sebab itu, umat Islam Singapura menginginkan agar pendirian sebuah
partai disesuaikan dengan kepentingan-kepetingan berdasarkan keyakinan dan
keimanan yang dipegangi bersama, yang di yakinin memancarkan identitas,
kesatuan, dan solidaritas kepada sesame muslim.


Ada dua partai politik yang berdasarkan etnis melayu yaitu Persatuan
Melayu Singapura dan Pertumbuhan Kebangsaan Melayu-Singapura.5 Namun
dalam perjalanannya, kedua partai ini tidak mendapatkan tempat dihati pemilih,
temasuk dimayoritas Melayu-Muslim sendiri. Partai yang berbasis agama dan
etnis di Singapura tidak dapat berkembang dengan baik, apalagi berharap
menjadi pemenang. Selama ini, hanya PAP lah partai politik utama masyarakat
melayu Muslim Singapura.

Dalam konteks politik yang lebih luas, melayu Muslim belum
mendapatkan refresentasi politik sesuai dengan keinginan mereka. Sampai saat
ini, hanya satu anggota cabinet yang berasal dari kelompok Islam dan amat
minim yang bisa duduk di parlemen, akibat dari pemerataan penduduk Melayu-
Muslim dengan Cina sehingga sulit bagi muslim untuk menjadi calon anggota
legeslatif.
Secara umum dapat dikatakan bahwa, dari sisi politik, Muslim Singapura
masih menyisakan persoalan. Namun demikian, dilihat dari realitas yang terjadi
di tengah masyarakat, isu politik boleh dikatakan tidak terlalu menarik bagi
mereka, karena mereka berada pada posisi minoritas. Strategi perjuangan politis
masih dianggap belum dapat membawa banyak keuntungan bagi masa depan
mereka.

2.3. Sejarah Masuknya Islam ke Singapura

Sejarah kehadiran agama Islam di Singapura tidak dapat dipisahkan dengan
sejarah kedatangan Islam di Asia Tenggara pada umumnya, begitu pula sejarah
perkembangan dari masa kemasa yang selalu berkaitan dengan perkembangan
agama Islam diwilayah lainya. Pada sebagian ahli sejarah sudah hampir sepakat
bahwa agama Islam sudah sampai ke Asia Tenggara pada abad pertama Hijriah atau
pada akhir abad ke-7 Masehi, karena pada abad itu pedagang-pedagang Arab atau
pedagang Muslim India sudah mengadakan perdagangan sampai keselat Malaka dan
ke Cina, sebagian ada yang singgah di Sumatera dan Jawa. Kemudian jalur
perdagangan itu menjadi rute tetap pada pedagang Arab dan India yang menjulur
dari laut Tengah melalui Persia dan India ke Asia Tenggara dan terus ke Tiongkok. 6

5 www.antara.co.id/arc/2007/10/27/sekolah-islam-di-singapura-akan-naikan-standar-akademis
6 Taufiq abdullah(Ed.), Islam Di-Indonesia, Tinta Mas Jakarta, 1974, hal 118.

Namun untuk menentukan dengan pasti kapan sesungguhnya awal kehadiran
agama Islam, dimana dimulai, kemana penyebarannya, siapa penyebarnya, dan
bagaimana metode pengajarannya adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah, karena
sulit menentukan bukti yang dapat dipercaya kebenarannya.
Singapura sendiri mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di
Asia Tenggara. Posisi stategis yang merupakan nilai lebih Singapura menjadikannya
sebagai transit bagi perdagangan dari berbagai kawasan. Pada sisi lain, selain
sebagai transit perdagangan letaknya yang strategis ini juga telah memungkinkannya
menjadi pusat informasi dan komunikasi dakwah Islam, karena secara geografis
Singapura hanyalah salah satu pulau kecil yang terdapat di tanah Semenanjung
Melayu.

Singapura menjadi sebuah Negara Republik yang merdeka setelah
melepaskan diri dari Malaysia pada tanggal 17 Agustus 1965. Saat ini, Singapura
merupakan Negara paling maju diantara Negara-negara tetangganya di kawasan
Asia Tenggara. Namun demikian, Islam relative tidak berkembang di Negara ini,
baik bila dibandingkan dengan sejarah masa lalunya, maupun bila dibandingkan
dengan perkembangan Islam di Negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. 7
Sejak abad ke-15, pedagang Muslim menjadi unsur penting dalam
perniagaan wilayah Timur, tidak terkecuali Singapura. Beberapa diantara para
pedagang ada yang menetap, dan menjalin hubungan perkawinan dengan penduduk
setempat. Lama-kelamaan mereka membentuk suatu komunitas tersendiri. Para
pedagang tersebut tidak jarang menjadi guru agama dan imam. Dalam komunitas
Muslim ini juga sudah terdapat sistem pendidikan agama yang bersifat tradisional.
Pada umumnya mereka belajar agama dirumah-rumah, yang kemudian dilanjutkan
di surau-surau dan mesjid. Pada tahun 1800 di kampong Glam dan kawasan Rocor
menjadi pusat pendidikan tradisional. Dalam hal ini, guru-guru dan imam sangat
penting peranannya dalam memupuk penghayatan keagamaan pada masyarakat
Muslim Singapura. Sama dengan Muslim di kawasan Asia Tenggara lainnya,
Muslim di Singapura pada masa awal menganut mazhab Syafi'I dan berpaham
teologi Asy'ariyah.

7 Sejarah Islam Asia Tenggara, Drs. H. Suhaimi, M.Ag, Unri Press, Cetakan Kedua, 2010,
Pekanbaru.

Pada abad-19 di kalangan komunitas muslim Singapura juga terdapat
kelompok pendatang yang berasal dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, Riau, dan Bawean
serta kelompok Imigran yang berasal dari luar seperti muslim India, dan keturunan
Arab khususnya Hadramaut.

Kedatangan imigran secara besar-besaran ini secara tidak langsung telah
membuat pelabuhan Singapura berkembang menjadi gerbang ekonomi yang penting
di Selat Melaka. Pada abad ke-19 hal ini telah menjadikan kota Singapura selain
sebagai sentral ekonomi juga menjadikan Singapura punya peranan penting selain
sebagai pusat perdagangan juga sebagai pusat informasi dan dakwah Islam.
Pada fase awal, Islam yang disuguhkan kepada masyarakat Asia Tenggara
lebih kental dengan nuansa tasawuf. Karena itu, penyebaran Islam di Singapura juga
tidak terlepas dari corak tasawuf ini. Buktinya pengajaran tasawuf ternyata sangat
diminati oleh ulama-ulama tempatan dan raja-raja Melayu. Kumpulan tarekat sufi
terbesar di Singapura yamg masih ada sampai sekarang ialah Tariqah ‘Alawiyyah
yang terdapat di Masjid Ba’lawi. Tarekat ini dipimpin oleh Syed Hasan bin
Muhannad bin Salim al-Attas.8

Selain tarekat itu juga dijumpai tarekat Al-Qadiriyyah Wa al
Naqshabandiyyah yang berpusat di Geylang Road yang dikelola oleh organisasi
PERPTAPIS (Persatuan Taman Pengajian Islam). Tarekat ini berasal dari Suryalaya,
Tasik Malaya, Jawa Barat. Gurunya bernama K.H Ahmad Tajul ‘Ariffin dan Haji
Ali bin Haji Muhammad. Tarekat lainnya yang diamalkan di Republik Singapura
ialah Al-Shaziliyyah, Al-Idrisiyyah, Al-Darqawiyyah dan Al-Rifa’iyyah.
Para ulama asal Yaman (Hadramaut) yang bernama Syed Abu Bakar Taha
Alsaggof dalam mengembangkan Islam di Singapura sangat besar. Dialah dai dan
penyebar Islam pertama era modern di negeri pulau itu dan membuka lembaga
pendidikan Islam, yakni Madrasah Al-Juneid yamg masih eksis sampai saat ini.

2.4. Perkembangan Islam di Singapura

Sebagai Negara yang berdiri setelah perang dunia II singapura meurpakan
Negara paling Maju di kawasan Asia Tenggara. Singapura memiliki Ekonomi atau
Prekonomian Pasar yang sangat maju, yang secara historis berputar di sekitar perdagangan Interpot Bersama Hong Kong, Korea Selatan dan Taiwan, Singapura
adalah satu dari Macan Asia . Ekonominya sangat bergantung pada ekspor dan
pengolahan barang impor, khususnya di bidang manufaktur yang mewakili 26%
PDB Singapura tahun 2005 dan meliputi sector elektronik, pengolahan minyak
Bumi, bahan kimia, teknik mekanik dan ilmu biomedis. Tahun 2006, Singapura
memproduksi sekitar 10% keluaran Waferwafer dunia. Singapura memiliki salah
satu dari pelabuhan tersibuk di Dunia dan merupakan pusat pertukaran mata uang
asing terbesar keempat di dunia setelah London, New York dan Tokyo. Bank Dunia
menempatkan Singapura pada peringkat hub logistik teratas dunia.9
Namun demikian ditengah kemajuan Singapura sebagai sebuah negara yang
menjadi sentral perdaganagan Asia Tenggara dan memiliki perjalanan panjang
mengenai perjumpaan dengan Islam. Singapura merupakan neagara yang memiliki
penduduk Muslim yang Minoritas. Dengan jumlah penduduk sekitar 4,99 Juta jiwa
hanya sekitar 14.9 % saja yang memeluk agama Islam. Dan menjadi agama kedua
terbesar setelah Buddha 42,9% di ikuti oleh Ateis 14.8 %, Kristen 14.6%, Taouisme
8% dan Hinddu 4% serta agama lainnya 0.6%.6
8 Dr. Munzir Hitami, Sejarah Islam Asia Tenggara, (Pekanbaru: Alaf Riau, 2006), hlm. 32.

Wajah Islam di Singapura tidak jauh beda dari wajah muslim di negeri
jirannya, Malaysia. Banyak kesamaan, baik dalam praktek ibadah maupun dalam
kultur kehidupan sehari-hari. Barangkali hal ini dipengaruhi oleh sisa warisan
Malaysia, ketika Negara kecil itu resmi pisah dari induknya, Malaysia, pada tahun
1965.

Hal ini jika di urut melalui sejarahnya, keberadaan Islam di Singapura tak
lepas dari keberdaan Etnis Melayu yang mendiami pulau tersebut. Ditambah dengan
golongan lain yang dikatagorikan sebagai Migran Muslim. Mereka inilah, terutama
migranArab, sebagai penyandang dana utama dalam pembangunan masjidmasjid,
lembaga lembaga pendidikan dan organisasiorganisasi Islam.7 Sejak pertengahan
abad ke19, ketika Belanda melakukan tindakan represif dan pembatasan atas calon
haji Indonesia, Singapura menjadi alternatif mereka sebagai tempat
pemberangkatan. Brokerbroker perjalan ibadah haji ini adalah kalangan
migranArab. Berbeda dengan Muslim imigran, masyarakat Melayu merupakan
mayoritas. Mengikuti pembagian Sharon Siddique, mungkin karena mayoritas
migran yang berasal dari dalam wilayah (Jawa, Sumatera, Riau dan Sulawesi),

9 http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura, 15/05/2012,13:34 WIB.


cenderung membawa isteri dan anak mereka. Dengan demikian rasioseks
(khususnya pada komponen mayoritas yang berbahasa Melayu) lebih seimbang
dibanding komunitaskomunitas lain. Kenyataan yang demikian berakibat pada
kelambatan terjadinya asimilasi kemelayuan. Kelompok migran biasanya mendiami
kampungkampung yang ditata berdasarkan tempat asal. Dan ini berakibat pada
menguatnya bahasabahasa etnis dan adat istiadat. Dengan demikian, karena
heteroginitas penduduk Muslim Singapura, orang bukan mendapatkan “suatu”
komunitas Muslim, namum sejumlah komunitas Muslim. Hal ini diperkuat dari
dalam dengan pelestarian batasbatas linguistik, tempat tinggal yang berorientasi
tempat asal, spesialisasi pekerjaan, status ekonomi dan berbagai tingkat pendidikan
(Taufik Abdullah,1989:391).
Bersamaan dengan itu, gejala yang terjadi pada migran luar wilayah (Arab
dan India) memiliki kecenderungan terbalik. Migrasi yang mereka lakukan hampir
secara eksklusif hanya dilakukan oleh kaum pria. Dengan mengawini wanita
Muslim Melayu, berarti mereka membangun keluargakeluarga baru di Singapura.
Hal ini selanjutnya memberikan definisi komunitas baru Arab dan Muslim India
yang, melalui garis patrilineal memberi identitas pada diri mereka sendiri, namun
menurut garis matrilineal adalah keturunan pribumi. Proses ini melahirkan suatu
komunitas ArabMelayu dan Jawi Peranakan yang mulai mengidentifikasi diri
dengan bahasa Melayu dan dengan adat istiadat serta kebiasaan local.8

7 Lapidus, Ira M. A History of Islamic Societies. Cambridge: Cambridge University
Press, 1991. Hlm. 761 8 Abdullah, Taufik dan Sharon Siddique (ed.). Tradisi dan
Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Terj. Rochman Achwan. Jakarta: LP3ES,
1988.hlm. 390.
Seperti disebutkan di atas, Keturunan Arab adalah para pedagang,
pengusaha dan tuan tanah. Meskipun dari sudut jumlah tidak besar, namun kekayaan
dan status tinggi memasukkan mereka dalam elit sosial komunitas Muslim. Begitu
juga dengan JawiPeranakan, mereka menikmati status tinggi dalam komunitas yang
lebih luas.

Namun juga penting ditekankan, komunitas Jawi Peranakan mementingkan
pendidikan, tidak hanya dalam bahasa Melayu tetapi juga Inggris. Seperti juga
disebutkan di atas, sejak pertengahan abad ke19, golongan Jawi Peranakan secara
aktif terlibat dalam penerbitan, jurnalisme dan mempromosikan bahasa Melayu.

Dibandingkan dengan dua saudaranya (Arab dan Jawi Peranakan)
kebanyakan orang Melayu hidup dengan standar ekonomi yang lebih rendah. Kalau
distratakan secara sosial dan ekonomi, dan barangkali politik, strata pertama dan
kedua adalah migran Arab dan Jawi Peranakan (migran India), dan strata ketiga
adalah orang Melayu. Terlebih jika dibandingkan dengan penduduk Singapura
lainnya (Cina). Begitu juga di bidang pendidikan. Di bawah sistem pendidikan yang
pesat di Singapura, pada tahun 1980, hanya sekitar 679 orang Melayu yang
merupakan lulusan pendidikan tinggi. Penekanan pada kebijakan sekolah dwibahasa
oleh pemerintah Singapura dan terutama penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa
wajib di sekolahsekolah, telah menurunkan kualitas sekolahsekolah dasar Melayu.
Seiring dengan membanjirnya arus urbanisasi ke Singapura dan tidak
memadainya kebutuhan akan papan dalam dua dekade terakhir, pemerintah telah
membangun rumahrumah rakyat, yang mewajibkan penduduknya, termasuk orang
Melayu, untuk tinggal di perumahan perumahan.

Mereka pun segera pindah dari kampung tradisional yang terdiri dari satu
etnis saja ke sebuah tempat tinggal modern yang terdiri dari campuran berbagai
etnik. Keadaan yang demikian memberikan pengaruh terhadap kehidupan
orangorang Melayu, dan tampaknya masih kesulitan untuk beradaptasi.
Memperhatikan adanya persoalanpersoalan yang berkaitan dengan kepentingan
pelaksanaan ajaran di kalangan komunitas umat Islam, pemerintah Inggris perlu
melakukan campur tangan. Pada tahun 1887 suatu kelompok yang terdiri dari 143
warga Muslim Singapura mengirim sebuah petisi kepada Gubernur yang meminta
diangkatnyaseorang kadhi sebagai pejabat untuk mengurusi masalah perkawinan.
Pada tiga tahun kemudian, tahun 1880, pemerintah Inggris menetapkan Ordonansi
Perkawinan Umat Islam (Mahomedan Marriage Ordinance). Wewenang legal
lembaga ini hanya semata pada soalsoal perkawinan dan perceraian. Adanya atau
ditetapkannya ordonansi ini berarti adanya pengakuan resmi dari pemerintah
kolonial Inggris akan perdata Muslim.

Pada pertengahan abad ke19, ketika pemerintah HindiaBelanda membatasi
dan melakukan represi terhadap calon jemaah haji, banyak di antara mereka yang
menggunakan Singapura sebagai pilihannya. Karena perlunya pengaturan bagi
perjalanan haji, pada tahun 1905 Dewan Legislatif mengeluarkan sebuah ordonansi
sebagai landasan pengaturan dan pengawasan agen perantara perjalanan haji. Dan
mengharuskan para agen perjalanan haji untuk memiliki surat izin.
Sejak awal abad ke20, warga Muslim, khususnya keturunan Arab dan India,
mulai dilibatkan dalam berbagai dewan pekerja Inggris. Karena banyaknya keluhan
yang berkaitan dengan tindakan salah urus di dalam badanbadan keagamaan, maka
pada tahun 1905 ditetapkan Mahomedan and Hindu Endowment Board (Dewan
Penyokong Bagi Pemeluk Islam dan Hindu), yang dimaksudkan untuk mengatur
masalah wakaf. Dewan ini berjalan sampai tahun 1941 dan diaktifkan kembali tahun
1946. Setelah tahun 1948 diangkat dua orang dari wakil komunitas Muslim. Pada
tahun 1952 Dewan ini diubah namanya menjadi Muslim and Hindu Endowment
Board. Dan berlangsung sampai pembubarannya pada tahun 1968. Tonggak
berikutnya pada tahun 1951 dibentuk Mohamedan Advisory Board (Dewan
Penasehat 20 Urusan Muslim), yang dimaksudkan sebagai badan yang memberikan
nasehatnasehat kepada pemerintah mengenai persoalanpersoalan komunitas Muslim
izin (Taufik Abdullah,1989:3978).

Setelah Singapura merdeka, tahun 1965, lembagalembaga Muslim bentukan
kolonial Inggris diadaptasikan dengan kondisi Singapura merdeka. Di antara
lembagalembaga baru itu adalah AMLA (The Administration of Muslim Law Act).
Lembaga ini dimasukkan ke parlemen pada tanggal 13 Desember 1965, dan menjadi
undangundang pada tanggal 25 Agustus 1966. Akta ini memberikan ruang yang
fleksibel bagi Dewan Agama Islam, Pengadilan Agama dan Pencatat Perkawinan
Islam dalam menetapkan hukum Syari’at.

Pada tahun 1966 AMLA menyerukan pembentukan MUIS (Majlis Ugama
Islam SingapuraIslamic Religious Council of Singapore) sebagai suatu badan
hukum untuk menjadi penasihat Presiden Singapura dalam hal berkaitan dengan
agama Islam di Singapura. Pelantikan pertama anggota MUIS dilakukan pada tahun
1968. Bersama dengan Peradilan Syariah dan Pencatat Perkawinan, MUIS
merupakan pusat pengaturan kehidupan komunitas Muslim di Singapura. Semua
lembaga ini secaraadministratif berada di bawah Kementerian Pembangunan
Masyarakat (the Ministryof Community Development). Tugas MUIS disini sama
seperti MUI di Indonesia, tugas mereka mengatur kegiatan Islam di Singapura
seperti mengeluarkan sertifikasi halal untuk makan yang menurut ketentuan Islam
baik untuk di konsumsi. Melakukan perhitungan waktu shalat di Singapura, menjadi
penyelengara pernikahan secara Islam.

Banyak masjid yang dibangun oleh komunitas ini. Di Singapura, dengan
jumlah penduduk Muslim tidak lebih dari setengah juta jamaah, terdapat 69 buah
masjid. Masjidmasjid itu didirikan oleh etnis Melayu, para sayid keturunan Arab
yang berimigran dari Hadramaut pada abad ke19, dan warga keturunan Melayu dan
Bugis dari Indonesia. Masjidmasjid di sini berada di bawah Lembaga Masjid, yang
pengurusnya dilantik olehg MUIS (Majelis Ugama Islam Singapura), semacam MUI
di Indonesia. Banyak peraturan yang dikeluarkan pemerintah setempat terhadap
masjidmasjid ini. Seperti masalah pengeras suara, terutama pada saat shalat subuh.
Bahkan juga pada saat shalat wajib lainnya. Jangan harap Anda bisa mendengar
suara azan seperti di Indonesia. Di Singapura, waktu shalat shubuh sekitar pukul
05.30 (perbedaan waktu Singapura dengan WIB satu jam). Aturan lainnya, jangan
cobacoba berbicara politik di masjid. Apalagi sampai mencela atau mengkritik
kebijakan pemerintah Singapura. Konon, pernah seorang mubaligh Indonesia
sampai diperingatkan ketika dalam tablighnya menyinggung masalah politik. Selain
itu, juga dilarang mencela dan menyentuh masalah adat istiadat dan agama lain.
Menurut Syed Isa bin Muhammad bin Semit, pimpinan MUIS, peraturan ini
ditujukan untuk menjaga keharmonisan agama di Singapura. Seperti yang
dikemukakanMuhammad Rauf, pimpinan Masjid AlFalahyang kakeknya berasal
dari Banjarmasin, pemerintah Singapura kini ingin membaurkan masyarakatnya
agar mereka dapat hidup berdampingan. Dengan menyatukan keturunan Melayu,
Cina, dan India tinggal bersama dalam flatflat.

Tidak lagi diperkampungan khusus seperti beberapa tahun lalu. Di tempat
yang dulu merupakan daerah nelayan di Singapura yang terletak di dekat pelabuhan,
terdapat Masjid Muhammad Salleh, yang berkapasitas sekitar 300 jamaah. Seperti
masjidmasjid lainnya di Singapura, beberapa ruangannya diberi AC dan ada ruang
khusus untuk wanita di bagian atas. Haji Muhammad Salleh membangun masjid ini
pada 1902. Warga kelahiran Betawi ini, bersebelahan dengan masjid membangun
sebuah kubah yang dijadikan makam, Habib Nuh bin Muhammad Alhabsji. Habib
yang wafat 1866 dalam usia hampir satu abad, merupakan generasi pertama dari
warga keturunan Hadramaut yang berdakwah di Singapura. Banyak umat yang
berziarah. Tak hanya umat Islam di Singapura, tapi juga warga India yang beragama
Hindu. Ada masjid di Orchad Road, Orchad Road yang memanjang sekitar dua km
merupakan pusat perbelanjaan paling terkemuka di Singapura. Berbelok kearah kiri
hanya sekitar 100 meter dari Orchad Road, terletak Masjid AlFalah. Masjid ini
secara resmi dibuka oleh Dr Ahmad Mattar, menteri lingkungan dan masalah Islam
Singapura pada 25 Januari 1987. Memasuki masjid ini, tempat masuk pria dan
wanita dipisah. Seperti juga masjidmasjid lainnya di Singapura, kebersihannya
sangat terjaga, termasuk tempat wudhu dan toilet. Jamaah yang shalat di masjid ini
bukan hanya para pegawai pertokoan dan perkantoran yang Beragama Islam, tapi
juga para wisatawan mancanegara, termasuk wisatawan dari Timur Tengah. ''Kalau
Jumat yang shalat sampai di kiri kanan masjid, yang jumlahnya lebih dari 1000
jamaah,'' kata H Mohamad Syukur, salah seorang pengurusnya. Masjid Ba'alawie,
merupakan salah satu masjid yang dibangun oleh keluarga Alatas di Kampung Arab,
yang penduduknya banyak warga Melayu. Masjid yang dibangun 1952 ini, dapat
menampung sekitar 400 jamaah. Dan pada hari shalat Jumat, jamaah membludak
hingga jalanan. Tiap Kamis malam di sini ada pengajian, yang banyak peminatnya.
Masjid Sultan masjid tertua Berdekatan Masjid Ba'alawie, terdapat Masjid Sultan, di
Muscat Street. Inilah masjid tertua tapi juga terbesar di Singapura, yang dapat
menampung lebih lima ribu jamaah. Seperti masjidmasjid di Singapura lainnya, tiap
masjid dilengkapi dengan berbagai fasiliitas seperti ruang kerja, komputer, serta
penyejuk ruangan di tiap ruangan dan tempat tempat sidang. Masjid Sultan yang
dibangun tidak lama setelah Raffles mendirikan Singapura, merupakan simbol
persatuan umat Islam di Singapura. Sepintas masjid yang dilengkapi dengan
auditorium ini, dengan kapasitas kursi 425 buah, seperti bangunan bersejarah Taj
Mahal di Agra, India. Berlantai dua, Masjid Sultan juga dilengkapi ruang resepsi
untuk umat Islam di sini. Di samping untuk pertemuan dengan kapasitas kursi untuk
200 orang. Sebuah masjid tua lainnya yang dibangun oleh Syed Omar Bin Ali
Aljuneid, seorang pedagang Arab dari Palembang adalah Masjid Omar Kampung
Malaka. Masjid ini dibangun 1820 dan merupakan masjid pertama di Singapura.
Kampung Malaka yang terletak di sebelah selatan Sungai Singapura, di disain oleh
Raffles dalam tahun 1822 untuk kelompok Melayu, Arab, Jawi Peranakan dan
Indonesia. Keluarga Aljunied juga menyokong pembangunan sekolah, rumah sakit,
dan mesjid, maupun jadi sponsor kegiatankegiatan dakwah. Untuk itu nama mereka
diabadikan di Kampung Malaka, yakni Aljunied Road dan Syed Alwi Road. Yang
belakangan ini adalah cucu Syed Omar. Di pusat perbelanjaan 'Little India', Masjid
Angullia, yang dapat menampung 400 jamaah. Sesuai namanya masjid inidibangunm keluarga Angullia, seorang Muslim yang berasal dari Bombay
(Mumbay) pada 1890.

Sementara Masjid Hajjah Fatimah, yang bersuamikan keturunan bangsawan
dari Sulawesi dibangun di Kampung Jawa pada 18451846. Untuk Singapura dengan
penduduk Muslim minoritas, puluhan masjid yang tidak pernah sunyi dari kegiatan
dakwah adalah satu hal yang pantas dibanggakan.
Dalam perkembangan selanjutnya, masyarakat Singapura selalu berupaya
untuk memajukan diri mereka seiring dengan kemajuan negaranya. Pemodernan
pemikiran umat Islam Singapura berpengaruh pula terhadap berkurangnya mitos dan
kepercayaan kepada Khufarat, sehingga semakin mulai menuju kepada cara
beragama yang lebih rasional. Berdasarkan keterangan sebelumnya, Singapura
modern sering dihubungkan dengan masukknya Sir Stamford Raffles ke pulau itu
pada tahun 1819. Waktu itu Singapura hanya didiami oleh lebih kurang 120 orang
Melayu (termasuk dari keturunan Bugis, Jawa, dan lainnya) dan 30 orang Cina.
Tahun 1901, jumlah orang Melayu itu berkembang menjadi 23.060 orang,
yang terdiri dari 12.335 orang penduduk asli kepulauan Melayu, hampir 1000 orang
keturunan arab, dan 600 orang keturunan Jawa. Jumlah penduduk Singapura secara
keseluruhan pada waktu itu sekitar 228.555 orang, dengan 72% etnis Cina.10
Orang Melayu awalnya tinggal dikawasan Kampung Gelam yaitu suatu
kawasan di pesisir sungai. Di sekitar Kampung Gelam tersebut mereka hidup secara
bersamaan dengan orang-orang keturunan Bugis, Boyan, Jawa dan Arab.
Dengan demikian, secara umum muslim Singapura terbagi kepada dua
kelompok besar, yaitu etnis Melayu sekitar 90%. Sisanya adalah etnis non-Melayu
(India, Timur Tengah, Indonesia, dan lain-lain) sekitar 10%.
Sementara itu, pada tahun 1947 bilangan penduduk-nya bertambah menjadi
940.824(115.735 Melayu dan 730.133 Cina). Pada tahun 1957 menunjukan bahwa
penduduk Singapura telah meningkat kepada 1.445.929 orang (1.090.596 Cina,
197.059 Melayu/Indonesia, 124.084 India/Pakistan dan 34.190 lainnya). Di akhir tahun 1976, jumlah penduduk Singapura adalah 2.294.900 orang (17% orang Islam
dan 15% dari itu adalah orang Melayu).
10 http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura, 15/05/2012,13:34WIB.

Menurut istilah Sharon Siddique, muslim Singapura dibagi menjadi dua
kelompok besar, yaitu migrant yang berasal dari dalam dan luar wilayah. Migrant
dari dalam wilayah berasal dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, Riau dan Bawean.
Kelompok ini selalu diidentikkan ke dalam etnis Melayu. Adapun kelompok
migrant dari luar wilayah dibagi menjadi dua kelompok penting, yaitu muslim India
yang berasal dari subkontinen India (Pantai Timur dan Pantai Selatan India) dan
keturunan Arab, khususnya Hadramaut. Dengan demikian, Sharon berpandangan
bahwa muslim Singapura adalah para migran.11
Migran yang berasal dari luar wilayah secara umum berasal dari golongan
muslim yang kaya dan terdidik. Kelompok ini pula akhirnya membentuk kelompok
elit social dan ekonomi Singapura. Mereka mempelopori perkembangan Singapura
sebagai pusat pendidikan dan penerbitan muslim. Disamping itu, mereka juga
sebagai penyumbang dana terbesar untuk pembangunan mesjid, lembaga pendidikan
dan organisasi social Islam lainnya. Di antara mereka itu dikenal dengaan keluarga
al-Segat, al-Kaff, dan al-Juneid.

Secara akademis belum ada pendapat yang pasti tentang asal usul migrant
dalam wilayah. Dari beberapa kajian ada yang berpendapat mereka itu berasal dari
Riau, Pahang, Terengganu, Kelantan. Saat ini, Jumlah umat Islam di Singapura
kurang lebih 15% dari total penduduknya, yang sekitar 4,5 juta total jiwa. Dan
kebanyakan penduduk Singapura mengklaim keyakinan dan beragama pada dirinya
sebagai "Free-Thinker", namun belum dapat dipastikan berapa jumlah free-thinker
tersebut.12

11 www.id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Islam_di_Singapura, 15/05/2012, 13:52WIB.
12 www.voa-islam.com/news/south-east-asia/2009/08/03/607/voice-of-al-islam-di-singapura-1-
silaturahim-ke-negeri-merlion/

2.5. Peranan Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS)

Lembaga-lembaga Islam di Singapura diantaranya adalah, Majelis Ugama
Islam Singapura (MUIS), Himpunan Dakwah Islamiyah Singapura (JAMIYAH) dan
Majelis Pendidikan Anak-anak Muslim (MENDAKI).13
Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) yang berada dibawah undangundang
pemerintahan, dibentuk pada tahun 1968. Majelis Ugama Islam Singapura
(MUIS) merupakan badan yang memiliki peran penting dalam urusan agama islam.

Fungsi dan tugas Majlis Ugama Islam Singapura sebagai berikut :
1. Memberi saran kepada presiden Singapura dalam masalah-masalah yang
berkaitan dengan agama Islam di Singapura.
2. Mengurusi masalah yang berkaitan dengan agama Islam dan kaum muslimin di
Singapura, termasuk urusan haji dan sertifikasi halal.
3. Mengelola wakaf dan dana kaum muslimin berdasarkan undang-undang dan
amanah
4. Mengelola pengumpulan zakat, infak, dan sedekah, untuk mendukung dan
mensyiarkan agama Islam atau untuk kepentingan umat Islam.
5. Mengelola semua masjid dan madrasah di Singapura. 14

Dimensi perkembangan Islam itu yang cukup menggembirakan, terutama
dalam hal manajemen profesionalisme dalam hal pengelolaan zakat, infaq, sedekah,
dan wakaf (ZIS wakaf). Di Singapura, sebagaimana dijelaskan oleh kepala Divisi
Pembangunan Agama dan Penelitian, Majlis Ulama Islam Singapura (MUIS),
Zalman Putra Ahmad Ali, pengelolaan ZIS wakaf, diperuntukkan bagi pemerataan
dan kesejahteraan umat Islam. "Pemberdayaan amanat agama ini tidak akan
mencapai target maksimal jika tidak dikelola secara professional”. 15
MUIS sendiri sebagai lembaga tertinggi pemerintah untuk Hal Ehwal Islam
(setingkat kementerian agama di Indonesia), memang bertanggung jawab dan ikut mengelola langsung pengelolaan ZIS wakaf, sehingga dapat mengetahui secara pasti
pelaksanaannya. Sistem manajemen profesioanl yang diterapkan oleh MUIS ini
telah diterapkan lebih dari 10 tahun terakhir. Dalam pembayaran ZIS misalnya,
tidak lagi secara manual, dengan cara pergi ke tempat penyaluran atau lembaga yang
dipercaya, tapi sejak dua tahun terakhir pembayarannya dapat dilakukan melalui
sistem on-line, seperti manajemen bank.
13 Asy ‘ari, dkk. Pengantar Studi Islam. 315.

14 Taufik Abdullah dan Sharon Siddique_editor. Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia
Tenggara. (jakarta: LP3ES, 1988), 385.


Dengan cara demikian akan diketahui seluruh dana yang terhimpun saat itu
juga. Sementara untuk wakaf, telah lima tahun lebih dikelola dengan sistem wakaf
produktif. Harta benda dari wakaf dikelola dengan azas manfaat, bukan lagi untuk
pembangunan masjid atau kuburan, sebagaimana di Indonesia. Misalnya, dana
wakaf dipakai untuk pembangunan real estate atau supermarket atau usaha lainnya
yang menguntungkan. Keuntungannya kemudian dipakai lagi untuk pengembangan
Islam. Di sini, jangan dikira ada kesempatan penyelewengan. Sebab, jika terbukti
melakukan korupsi, misalnya terhadap dana ZIS atau wakaf, maka hukuman yang
sangat beratlah imbalannya. Memang di Singapura penegakan hukum cukup bagus,
dan tingkat KKN-nya sangat minim. Berkaitan dengan ZIS ini, menurut Zalman,
rata-rata dana ZIS setiap tahunnya terkumpul berkisar 18-20 juta dolar Singapura
(sekitar 10 dolar AS). Khusus pegawai di MUIS, digaji dari dana zakat tersebut.
Sementara itu, dana bagi pengembangan masjid dan madrasah, ada kasnya
sendiri. Tidak lagi diambilkan dari dana ZIS wakaf tersebut. Untuk madrasah ada
kotak bernama "Dana Madrasah". Sedangkan dana masjid diperoleh dari sumbangan
kaum muslim, khususnya kotak Jumat. Meski juga terkadang masih dapat bantuan
dari dana ZIS wakaf.

2.6. Madrasah, Masjid, dan LSM

Manajemen profesionalitas dalam pemberdayaan potensi dan peningkatan
kualitas umat bukan hanya terlihat pada aspek ZIS wakaf. Ia juga tampak jelas
dalam pengelolaan pendidikan (madrasah), masjid, dan lembaga-lembaga swadaya
Islam non-pemerintah (NGO).16
Lembaga pendidikan Islam (madrasah) dikelola secara modern dan
profesional, dengan kelengkapan perangkat keras dan lunak. Dari seluruh madrasah
Islam (sebanyak enam buah, seluruhnya di bawah naungan MUIS), system pendidikan diterapkan dengan memadukan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum.
Keenam madrasah itu adalah madrasah Al-Irsyad Al-Islamiah, madrasah Al-Maarif
Al-Islamiah, madrasah Alsagoff Al-Islamiah, madrasah Aljunied Al-Islamiah,
madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah, dan madrasah Wak Tanjong Al-Islamiah.17
Waktu penyelenggaraan belajar mengajar dimulai dari pukul 08.00 hingga
14.00. Lama waktu ini juga berlaku di sekolah-sekolah umum dan non-madrasah.
Agar tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi, maka di setiap madrasah
dibangun laboratorium komputer dan internet, serta sistem pendukung pendidikan
audio converence. Selain dilengkapi fasilitas internet, setiap madrasah juga
mempunyai server tersendiri bagi pengembangan pendidikan modern. "Murid
dibiasakan dengan teknologi, terutama teknologi internet. Setiap hari, mereka diberi
waktu dua jam untuk aplikasi dan pemberdayaan internet," jelas Mokson Mahori,
Lc, guru di madrasah Al Junied Al Islamiyah. Sayangnya, pendidikan Islam baru
ada dalam institusi TK hingga madrasah Aliyah (SMU). Untuk perguruan tingginya
hingga kini belum ada.

Manajemen yang sama juga diterapkan dalam pengelolaan masjid. Tidak
seperti yang dipahami selama ini, bahwa masjid hanya sebatas tempat ibadah
mahdhoh an sich (shalat lima waktu dan shalat Jumat). Tetapi, masid di negeri
sekuler ini, benar-benar berfungsi sebagaimana zaman Rasulullah, sebagai pusat
kegiatan Islam.

Saat ini di Singapura terdapat 70 masjid. Selain tempatnya yang sangat
bersih dan indah, juga di ruas kanan dan kiri disetiap masjid terdapat ruanganruangan
kelas untuk belajar agama dan kursus keterampilan. Berbagai disiplin ilmu
agama diajarkan setiap siang dan sore hari. Kegiatan ceramah rohani usai juga
diajarkan usai shalat shubuh atau maghrib.

Aktivitas lainnya, diskusi berbagai masalah kontemporer dan keislaman.
Diskusi ini biasanya diadakan oleh organisasi remaja di setiap masjid. Dewan
pengurus setiap masjid juga menerbitkan media (majalah dan buletin) sebagai media
dakwah dan ukhuwah sesama muslim. Berbeda dengan di negara lainnya, para
pengurus masjid digaji khusus, dan memiliki ruangan pengurus eksekutif laiknya
perkantoran modern.
16 muslim.or.id/infokajian/singapura/pengajian-rutin-islam-di-singapura.html

17 id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Islam_di_Singapura


2.7. Model Pendidikan Islam di Singapura

Sejarah awal munculnya pendidikan Islam di Singapura tidak dapat
diketahui dengan pasti. Yang jelas pendidikan islam telah ada pada pase awal
kedatangan islam ke Singapura itu sendiri. Pendidikan islam di Singapura di
sampaikan para ulama yang berasal dari negeri lain di Asia Tenggara atau dari
Negara Asia Barat dan dari benua kecil India. Para ulama tersebut diantaranya ialah
Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Tuanku Mudo Wali Aceh, Syaikh Ahmad
Aminuddin Luis Bangkahulu, Syaikh Syed Usman bin Yahya bin Akil (Mufti
Betawi), Syaikh Habib Ali Habsyi (Kwitang Jakarta), Syaikh Anwar Seribandung
(Palembang), Syaikh Mustafa Husain (Purba Baru Tapanuli), Syaukh Muhammad
jamil Jaho (Padang Panjang) dll. Seperti di Negara lain, pendidikan agama Islam di
Singpura dijalankan mengikuti tradisi dan system persekolahan modern. System
tradisional, mengikuti pola pendidikan Islam berdasarkan system persekolahan
pondok Malaysia dan Patani atau pesantren di Indonesia.

Adapun system modern adalah melalui system sekolah yang merujuk ke
Mesir dan Barat, yang dikenal dengan madrasah, sekolah arab atau sekolah agama.
Ada empat madrasah terbesar di Singapura sampai saat ini, yaitu :

a. Madrasah al-Junied al-Islamiyyah, didirikan pada bulan muharam 1346H
(1927M) oleh pangeran Al-Sayyid Umar bin Ali al-Junied dari
Palembang. Mata pelajaran yang diajarkan dimadrasah ini adalah ilmu
Hisab, Tarikh, Ilmu Alam, Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, Sains, Sastra
Melayu dan mata pelajaran lainnya.
b. Madrasah al-Ma’arif, didirikan pada tahun 1940-an. Pengasuh madrasah
ini adalah lulusan universitas al-Azhar, Mesir dan dari kawasan Asia
Barat.
c. Madrasah Wak Tanjung Al-Islamiyyah, didirikan pada tahun 1955
d. Madrasah Al-Sago (atau Al-Saqaf), didirikan pada tahun 1912 diatas
tanah yang diwaqafkan oleh Sed Muhammad bin Sed Al-Saqof.

Pada kenyataannya, kemajuan sebuah Negara tidak lepas dari kondisi
geografis dan keadaan pendidikannya. Pendidikan merupakan standarisasi penilaian
secara tidak langsung yang dapat menjadi pertimbangan dalam mengkategorisasikan
maju tidaknya sebuah Negara. Demikian pula halnya Negara Singapura, dilihat dari
factor pendidikan tekanan bagi kaum muslim dan melayu di Singapura sungguh-sungguh nyata. Ini terlihat dari meningkatnya pendidikan dan kemajuan ekonomi
yang telah dicapai orang-orang singapura lainnya khususnya orang-orang Cina yang
mayoritas dinegara itu. Tekanan tersebut nampak nyata dalam tulisan-tulisan dan
studi-studi yang dilakukan komunitas Muslim-Melayu sepanjang tahun 1980-an.
Dilatarbelakangi sensus penduduk 1980 yang menyatakan bahwa orang-orang
Melayu Singapura tertinggal di belakang etnis lain, dalam status social ekonomi,
diskursus public kembali diaktifkan organisasi-organisasi muslim seperti Majlis
Pusat untuk menggerakan pesan bahwa jalan keluar bagi kaum muslim adalah
meningkatkan pendidikan dan kompetensi professional. Sejalan dengan seruan itu
adalah himbauan dari pemimpin-pemimpin muslim dan aktifitas-aktifitas yang
berorientasi islam agar menanggulangi status social ekonomi mereka dalam
kerangka dan prinsip-prinsip islam.

Sejauh menyangkut masalah pendidikan walau sejak tahun 1970-an pesan
pentingnya pendidikan (khususnya pendidikan tinggi) sebagai katalis bagi
kehidupan yang lebih layak bagi etnis melayu telah disuarakan oleh organisasiorganisasi Melayu, kembali di intensifkan pada tahun 1981. Pada tahun itu pula didirikan majelis pendidikan anak-anak (MENDAKI) yang mengarahkan
kegiatannya pada masalah pendidikan bagi anak-anak muslim. Pemimpin melayu
muslim sangat berhasil dalam menarik dukungan yang besar, bukan hanya dari
perhimpunan-perhimpunan atau kelompok-kelompok Melayu-muslim, tapi juga dari
pemerintah. Status majlis itu kemudian meningkat menjadi yayasan tahun 1982
setelah majelis sukses melaksanakan ‘Kongres tentang Pendidikan Anak-Anak
Muslim’, suatu kesempatan dimana Perdan Menteri menyampaikan suatu key note
addres.

Disamping itu pembentukan MENDAKI juga mempercepat kehadiran dan
publikasi bahan-bahan dan karya-karya yang terkait dengan pendidikan bagi
minoritas di Singapura. Walaupun karya-karya dalam bentuk buku masih langka,
tersedia makalah-makalah yang disajikakan dalam seminar dan konferenaikonferensi
dan artikel-artikel yang dipublikasikan oleh MENDAKI dan lembagalembaga
muslim lainnya seperti MUIS dan JAMIYYAH. MENDAKI misalnya,
menerbitkan a collection of mendake papers (1982), suatu kompilasi dari sekitar
sepulus proyek yang mencakup bermacam-macam masalah yang berkaitan dengan
pendidikan bagi kaum muslim, dan MUIS menerbitkan jurnal yang pertama kali
tentang masalah-masalah kaum muslim di Singapura, fajar islam tahun1988. fajar
islam diterbitkan, menurut editornya, dengan tujuan untuk memahami
perkembangan social ekonomi dan politik yang mempengaruhi kaum muslim
Singapura dan menelaahnya secara cermat, obyektif dan analitik.
Mencermati masalah keterpurukan pendidikan minoritas muslim (Melayu)
dari etnis Cina (non islam lain) di Singapura, terlihat bahwa etnis Cina cenderung
memiliki prestasi pendidikan, dimana dengan terdapatnya halangan dan rintangan
dalam pencapaian stabilitas sosio ekonomi seseorang individual melalui pendidikan
Singapura periode 1959-1980, dimana kondisi ekonomi etnis Cina memang sudah
mapan sebelum perang, akan diwarisi anak-anak mereka, sehingga pendidikan
mereka juga cenderung lebih tinggi dan lebih mapan, ditambah lagi basis bahasa
inggris yang mereka kuasai.

Hal semacam ini, justru terdapat bagi kebanyakan etnis melayu (muslim),
karena pada periode 1960-1970 an, 60% perhasilan perkapital penduduk melayu
tergolong ekonomi lemah (rendah), sementara Cina hanya 40% terkategorikan
penduduk miskin.

Kondisi dan akta ini, tentunya tercermin pula dalam penyaluran pendidikan
di antara anak-anak muslim dengan etnis cina dalam rangka memasuki sekolah
menengah. Pada tahun 1983 60% pelajar-pelajar melayu disalurkan kealiran sekolah
rendah (biasa), sedangkan etnis cina sebanyak 40%. Selain jurang ekonomi yang
mempengaruhi semua penduduk singapura terdapat factor lain yang unik kepada
orang melayu dan menyababkan merekan lebih rugi dari pada orang cina. tahun
1965, kurang lebih 50% pelajar melayu mendaftarkan diri dalam program
pendidikan yang diajar dalam bahasa melayu. Sungguhpun pendidikan inggris cepat
sekali menjadi popular setelah kemerdekaan singapura dari Malaysia pada 1965,
para pelajar yang mulanya berbasis melayu, terpaksa mengundurkan diri. Sedangkan
para pelajar melayu yang layak dan cukup kredibel dalam memasuki pendidikan
menengah dipindahkan kealiran inggris dimana merekan tidak mempunyai
persediaan dan kesiapan dari segi bahasa. Bagi sebagian kecil pelajaran Melayu
yang layak ke Universitas banyak yang bingung dalam mengambil atau
memperdalamilmu mereka melalui kursus-kursus professional dan sains yang
semuanya diajar dalam bahasa inggis. Mereka sama sekali tidak diperkenangkan
untuk mengambil kursus-kursus itu, sehingga ketika mereka telah tamat dari
Universitas dan ingin berkerja dengan melamarkan Ijazah yang mereka peroleh,
sering kali peluang bagi para siswa aliran Melayu mendapat perlakuan yang kurang
adil. Hal ini sebenarnya juga dialami oleh etnis Cina, mereka juga diperlakukan
sebagaimana etnis Melayu, akan tetapi keunggulan Cina dari Melayu adalah mereka
memiliki alternalif yang dapat menjembatani anak-anak mereka untuk bekerja di
sektor-sektor ekonomi yang menggunakan bahasa Cina.

Selain faktor-faktor ekonomi yang etnis yang menjelaskan prestasi pelajarpelajar
Melayu dibidang pendidikan kiranya masih perlu dikaji menurut golongan
etnis apakah kelemahan prestasi pendidikan pelajar-pelajar Melayu berbeda jauh
dari orang-orang Cina yang berpuncak dari factor-faktor dalam budaya melayu
sendiri. Dikalangan setengah elit Melayu pemerintah dan orang Cina sungguh-sungguh percaya bahwa orang melayu kurang kuat berkerja dan kurang
berorientasikan pencapaian dalam pendidikan dan dalam ekonomi secara umum dari
pada orang Cina. Nilai-nilai budaya yang tidak sesuai adalah sebab kenapa prestasi
pendidikan dan ekonomi mereka lemah.

Budaya orang Cina dan budaya Melayu memiliki perbedaan dalam menata
pola urusan rumah tangga. Dalam budaya Cina, nilai pendidikan bagi anak sangat
dijunjung tinggi. Oleh karenanya pendidikan anak-anak mereka harus diutamakan
dan diperhatikan secara serius, walau anak juga dilibatkan dalam urusan usaha
menghasilkan uang atau peningkatan ekonomi keluarga. Mungkin hal ini pula yang
memicu semangat orang-orang Cina untuk lebih berdikari dan lebih tinggi semangat
kemandiriannya jika dibandingkan dengan orang-orang Melayu. Semangat kerja ini,
akhirnya mendarah daging dalam menempuh jalur pendidikan sehingga dibidang
pendidikan pun, etnis Cina terlihat lebih unggul dari pada etnis melayu.
Keberadaan lembaga swadaya masyarakat Islam (LSM) juga tak kalah
pentingnya dalam upaya menjadikan muslim dan komunitas Islam negeri itu potret
yang maju dan progresif. Berbagai LSM Islam yang ada terbukti berperan penting
dalam agenda-agenda riil masyarakat muslim.

Saat ini, tidak kurang dari sepuluh LSM, di antaranya adalah: Association
of Muslim Professionals (AMP), Kesatuan Guru-Guru Melayu Singapura (KGMS),
Muslim Converts Association (Darul Arqam), Muhammadiyah, Muslim Missionary
Soceity Singapore (Jamiyah), Council for the Development of Singapore Muslim Community (MENDAKI), National University Singapore (NUS) Muslim Society,
Perdaus (Persatuan dai dan ulama Singapura), Singapore Religious Teachers
Association (Pergas), Mercy Relief (Center for Humanitarian), International
Assembly of Islamic Studies (IMPIAN), dan Lembaga Pendidikan Alquran
Singapura (LPQS).18
Seluruh lembaga dan sistem manajemen profesional ini ditujukan bukan
saja pada terbentuknya kualitas muslim dan komunitas Islam yang maju, moderat
dan progresif, tetapi juga potret yang mampu berkompetisi dan meningkatkan citra
Islam di tengah pemandangan global yang kurang baik saat ini. Model demikian
inilah yang kini terus diperjuangkan agar Islam yang rahmat menjelma dalam
kehidupan masyarakat Singapura

18 id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Islam_di_Singapura

 PENUTUP

Kesimpulan

Masih ada kesamaran mengenai kepan pertama kali Singapura ditemukan.
Ada sejumlah legenda yang berkembang tentang mengapa pulau itu kemudian
bernama Singapura. Pernah pulau itu menjadi wilayah kekuasaan Majapahit, dan
pernah pula menjadi vassal Kerajaan Siam dan Pahang.

Tetapi perkembangan yang pesat atas Singapura adalah setelah pulau itu
menjadi bagian dari koloni Inggris. Perkembangan Islam di Singapura tidak bisa
dilepaskan dari proses Islamisasi yang terjadi di Nusantara dan Semenanjung
Malaysia. Proses awal Islamisasi ini terjadi sekitar abad 15, ketika Malaka menjadi
pusat penting kekuatan Islam. Intensitas Islamisasi di Singapura juga terjadi setelah
ia berada di bawah koloni Inggris.

Penduduk Muslim Singapura terbagi kepada dua golongan, yaitu Muslimpribumi
dan Muslim-migran. Pribumi adalah orang Melayu, sedang migran adalah
orang-orang Jawa, Bugis, Sumatera, Riau, Arab dan India. Dalam perkembangan
selanjutnya, peran yang menonjol dipegang oleh para Muslim-migran. Untuk
pembangunan masjid-masjid banyak dipelopori oleh migran-Arab. Mereke juga
punya peran penting dalam penerbitan buku-buku Islam, terutama sekali buku-buku
keagamaan yang bercirikan pemikiran reformis. Peran-peran politik umat Islam di
Singapura ternyata juga banyak dipelopori oleh kaum migran ini. Mengingat
keberadaannya sebagai kaum minoritas, umat Islam Singapura lebih bersikap
adaptasionis, melakukan kerjasama yang menguntungkan dengan pemerintah
Singapura.
Pada tahap awal proses Islamisasi, Islam diidentikan dengan agamanya
orang Melayu. Dalam hal ini karena Islam menjadi agama yang dianut oleh sultan di
Malaka, yang juga pernah singgah di Singapura ketika lari dari Palembang, dan
kemudian mendirikan kesultanan Malaka dan menjadi Muslim. Identifikasi Melayu
dan Sultan ini memberikan kemungkinan awal dari perkembangan Islam di
Singapura. Sekalipun demikia, dalam beberapa abad kemudian (kurang lebih 4
abad), Singapura menjadi daerah yang tidak bertuan. Dan penghuni pulau Singapura
adalah para perompak laut.
Pada tahap kedua, proses Islamisasi terjadi terutama setelah Singapura
menjadi pilihan Raffles sebagai basis perdagangan Inggris di belahan timur.
Singapura kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan yang menarik minat
Muslim Melayu di sekitarnya dan juga pedagang-pedagang Muslim Arab dan India
untuk bermigran ke Singapura. Sejak itulah, awal abad 19, proses pembentukan
peradaban Islam di Singapura berlangsung sampai sekarang.
Dengan dimotori oleh migran Arab dan India, juga dukungan Muslim
Melayu, Islam berkembang di Singapura membangun citra dirinya. Seiring dengan
perjalan sejarahnya, komunitas Muslim memainkan peran dalam perkembangan
pembaharuan Islam di kawasan Asia Tenggara. Tercatat penerbitan majalah dan
buku yang memiliki muatan refomis dipublikasikan dari Singapura.
Bersamaan dengan itu, untuk memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan
ajaran Islam, Muslim Singapura telah mendapatkan perhatian dari pemerintah
dengan sejumlah kelembagaan Muslimnya, yang dewasa ini kita kenal seperti
AMLA dan MUIS. Di bawah MUIS itulah dikoordinasikan berbagai kelembagaan
yang menunjang kelangsungan kehidupan umat Islam Singapura.
Sebagai kelompok minoritas, tentu ada pilihan-pilihan nyata yang dihadapi
Muslim Singapura. Dalam hal ini nampaknya umat Islam Singapura lebih
mengambil sikap dan pilihan yang adaptasionis dan kerjasama ketimbang
melepaskan diri dari ikatan nasional Singapura.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik dan Siddique, Sharon. 1988. Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia
Tenggara. LP3ES. Jakarta.
Artikel Online dari : www.muis.gov.sg, 15/05/2012,14:21 WIB.
Artikel Online dari : id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Islam_di_Singapura, 16/05/2012,09:59
WIB.
Artikel Online dari : id.wikipedia.org/wiki/Singapura, 15/05/2012,13:34 WIB.
Artikel Online dari : muslim.or.id/infokajian/singapura/pengajian-rutin-islam-disingapura.
html, 16/05/2012,08:05 WIB.
Artikel Online dari : www.id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Islam_di_Singapura, 15/05/2012,
13:52WIB.
Artikel Online dari : www.voa-islam.com/news/singapore/2009/07/04/114/islam-disingapura-
menuju-komunitas-muslim-yang-maju/, 15/05/2012,15:14 WIB.
Artikel Online dari : www.voa-islam.com/news/south-east-asia/2009/08/03/607/voice-of-alislam-
di-singapura-1-silaturahim-ke-negeri-merlion/, 15/05/2012,14:00 WIB.
Artiket Online dari : www.voa-islam.net/news/singapore/2009/08/03/607/voice-of-alislamdi-
singapura-%28uslim.or.id/infokajian/singapura/pengajian-rutin-islam-disingapura.
html, 15/05/2012,14:44 WIB.
Asy ‘ari, dkk. 2004. Pengantar Studi Islam. IAIN Sunan Ampel Press. Surabaya
Hitami, Munzir. 2006. Sejarah Islam Asia Tenggara. Alaf Riau Pekanbaru.
Hsu Yun-ts’iao. 1992. Notes On The Historial Position Of Singapure. Malayan History.
Singapore.
Suhaimi. 2010. Sejarah Islam Asia Tenggara. Unri Press, Cetakan Kedua. Pekanbaru.
Taufiq abdullah(Ed.). 1974. Islam Di-Indonesia. Tinta Mas. Jakarta.
Zuhairini, dkk. 1994. Sejarah Pendidikan Islam, Bumi Aksara. Jakarta.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Berkomentar lah dengan yang sopan yang tidak mengandung unsur SARA, PORNOGRAFI, Dan TIDAK diperkenankan untuk PROMOSI selain Persetujuan dari ADMIN. Jika di lakukan, Maaf komentar akan DI HAPUS.

Untuk menggunakan Emoticon Komentar, Klik Emoticon yang akan di pasang. Akan muncul kode emoticonnya. Masukkan itu pada saat berkomentar. Terima Kasih
EmoticonEmoticon